Skabies merupakan penyakit kulit menular yang dapat mudah menyebar pada lingkungan dengan kepadatan hunian tinggi, termasuk pondok pesantren. Pengenalan tanda dan gejala serta pemahaman mengenai deteksi dini diperlukan untuk mendukung upaya pencegahan penularan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan santri mengenai deteksi dini skabies melalui edukasi dan pelatihan penggunaan formulir DeSkab di Pondok Pesantren Hidayatullah Al Muhajirin, Bangkalan. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Juni 2026 dengan melibatkan 40 santri berusia 15–18 tahun. Intervensi terdiri atas edukasi mengenai skabies dan pelatihan penggunaan formulir DeSkab yang dilanjutkan dengan evaluasi menggunakan pretest dan posttest. Distribusi selisih skor pretest dan posttest diperiksa menggunakan uji Shapiro–Wilk dan menunjukkan distribusi yang tidak normal, sehingga perubahan skor dianalisis menggunakan uji Wilcoxon signed-rank. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 91,00 ± 16,61 sebelum kegiatan menjadi 96,00 ± 13,17 setelah kegiatan. Analisis menunjukkan terdapat perbedaan skor pengetahuan yang bermakna antara sebelum dan sesudah kegiatan (p = 0,021). Meskipun demikian, skor awal yang sudah tinggi dan median skor sebesar 100 menunjukkan kemungkinan ceiling effect, sehingga peningkatan skor perlu diinterpretasikan secara hati-hati. Selain itu, desain satu kelompok tanpa kelompok pembanding dan evaluasi segera setelah kegiatan belum memungkinkan penarikan kesimpulan mengenai peningkatan keterampilan deteksi secara langsung maupun perubahan perilaku jangka panjang. Edukasi dan pelatihan penggunaan formulir DeSkab dapat menjadi strategi awal untuk memperkuat pengetahuan santri mengenai deteksi dini skabies. Evaluasi selanjutnya perlu mencakup observasi keterampilan penggunaan DeSkab dan pengukuran tindak lanjut untuk menilai retensi pengetahuan serta penerapannya dalam kegiatan kesehatan pesantren.
Copyrights © 2026