Tarian Lalayon merupakan tarian pergaulan tradisional masyarakat Gamrange (Weda, Patani, dan Maba) yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. Sebagai bagian dari kesenian rakyat, tarian ini menyimpan sistem tanda yang sarat nilai sosial, budaya, dan spiritual, namun belum banyak dikaji secara mendalam dari sudut pandang semiotika, khususnya pada gerak tangan dan kaki penarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna semiotik yang terkandung dalam gerak Tarian Lalayon pada masyarakat Gemia dengan menggunakan pendekatan semiotika triadik Charles Sanders Peirce, yaitu representamen, objek, dan interpretant, serta trikotomi tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tokoh adat, pelaku tari, dan masyarakat pendukung tarian di Desa Gemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak tangan dan kaki dalam Tarian Lalayon memuat makna berlapis: gerak tangan dari luar ke dalam (Patani) dimaknai sebagai simbol merangkul sesama, sedangkan gerak dari dalam ke luar (Weda dan Maba) dimaknai sebagai simbol memberi kasih tanpa pamrih; larangan bersentuhan antarpenari dan batas ketinggian tangan menegaskan nilai kesucian dan penghambaan kepada Allah SWT; sementara gerak kaki memaknai kesabaran, keberanian memulai langkah hidup, dan keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Temuan ini menegaskan bahwa Tarian Lalayon berfungsi sebagai media komunikasi nonverbal yang mewariskan nilai persatuan, kasih sayang, dan spiritualitas Islam tanpa bergantung pada bahasa verbal. Keywords: semiotika Peirce, tarian lalayon, komunikasi nonverbal, Gerak tari, Nilai keislaman
Copyrights © 2026