Pelestarian musik tradisional dalam produksi audio modern merupakan tantangan bagi Audio Engineering dan Creative Media. Musik keroncong memiliki karakter akustik khas, tetapi metode perekaman yang menyeimbangkan klaritas instrumen dan keutuhan ruang pertunjukan masih minim. Close-miking umum dipakai untuk detail instrumen namun mengurangi spatial character, sementara Decca Tree efektif untuk depth dan kohesi orkestra tapi belum banyak diterapkan pada musik tradisional Indonesia. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas gabungan close-miking dan Decca Tree dalam mempertahankan autentisitas akustik keroncong serta mengembangkan Hybrid Keroncong Recording Framework. Dengan PracticeBased Research pada rekaman Keroncong Irama Suka-Sukadi Velvet Studio Jakarta, sistem 7 mic closemiking + 3 mic Decca Tree digunakan untuk menangkap detail dan ambience. Evaluasi reflektif menunjukkan pendekatan hibrida menjaga keseimbangan clarity, ensemble cohesion, dan spatial ambience. Temuan memetakan hubungan direct sound capture, spatial ambience, dan acoustic authenticity.
Copyrights © 2024