Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator penting mutu pelayanan kesehatan, yaitu hasil penilaian pasien terhadap pelayanan yang diterima dibandingkan dengan yang diharapkan. Data cakupan kepuasan pasien rawat inap di UPTD Puskesmas Krui Selatan Kabupaten Pesisir Barat pada tahun 2023 hanya mencapai 26%, jauh di bawah standar pelayanan minimal Kementerian Kesehatan RI sebesar 95%. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap rendahnya capaian tersebut adalah komunikasi terapeutik tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan komunikasi terapeutik tenaga kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap. Jenis penelitian kuantitatif dengan desain analitik dan pendekatan cross sectional. Populasi adalah seluruh pasien rawat inap dengan rata-rata 35 pasien per bulan, dan seluruhnya dijadikan sampel melalui teknik purposive sampling (total sampling), sehingga diperoleh 35 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner komunikasi terapeutik (16 item) dan kepuasan pasien (25 item, lima dimensi mutu pelayanan), kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden menyatakan tidak puas, yaitu 21 orang (60,0%), sedangkan yang puas 14 orang (40,0%). Sebagian besar responden juga menilai komunikasi terapeutik tenaga kesehatan kurang baik, yaitu 19 orang (54,3%), sedangkan yang menilai baik 16 orang (45,7%). Uji chi-square menunjukkan p-value 0,000 (p<0,05) dengan nilai Odds Ratio 25,500, yang berarti pasien yang menerima komunikasi terapeutik kurang baik memiliki peluang 25,5 kali lebih besar untuk merasa tidak puas dibandingkan pasien yang menerima komunikasi baik. Disimpulkan terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi terapeutik tenaga kesehatan dengan tingkat kepuasan pasien rawat inap. Puskesmas disarankan meningkatkan pelatihan komunikasi terapeutik bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat, guna meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan pasien.
Copyrights © 2026