Ketidakhadiran figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, dipahami sebagai faktor yang berpotensi menghambat terbentuknya model peran gender pada individu yang mengalaminya. Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman crossdressing pada individu emerging adulthood yang tumbuh dalam pengasuhan fatherless. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis(IPA). Partisipan berjumlah empat orang berusia 18–25 tahun yang melakukan crossdressing, mengalami kondisi fatherless, dan bersedia menjadi partisipan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan prosedur IPA enam tahap dari Pietkiewicz & Smith. Hasil analisis menghasilkan empat tema superordinat, yaitu: (1) kehilangan figur ayah sebagai pengalaman berlapis; (2)fatherless sebagai hambatan pembentukan model peran gender; (3) crossdressing sebagai strategi negosiasi identitas; dan (4) penerimaan diri sebagai proses yang berkelanjutan. Crossdressing dipahami sebagai manifestasi upaya individu menegosiasikan identitas gender di tengah absennya figur referensi utama pada fase perkembangan yang kritis.
Copyrights © 2026