Pemeriksaan morfologi sel darah melalui sediaan apusan darah tepi (SADT) merupakan prosedur penting dalam diagnostik hematologi. Pewarnaan konvensional menggunakan Giemsa terbukti efektif, namun memiliki keterbatasan berupa sifat toksik, proses yang relatif lama, serta keterbatasan ketersediaan di daerah tertentu. Oleh karena itu, diperlukan alternatif pewarna alami yang lebih aman dan mudah diperoleh. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan ekstrak antosianin ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) sebagai pewarna alami pada morfologi eritrosit, leukosit, dan trombosit. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan menggunakan 24 preparat SADT yang diwarnai dengan variasi konsentrasi ekstrak 25%, 50%, 75%, dan 100%. Hasil pengamatan dilakukan secara mikroskopis dengan pembesaran imersi, kemudian dibandingkan dengan pewarnaan Giemsa sebagai standar emas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eritrosit dapat terwarnai pada semua konsentrasi, dengan kualitas terbaik pada konsentrasi 50% dan 75% yang mendekati hasil Giemsa. Trombosit juga dapat terwarnai dengan baik pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100%, meskipun intensitasnya belum setajam Giemsa. Sementara itu, leukosit tidak menunjukkan hasil pewarnaan yang optimal karena inti sel, granula, dan sitoplasma tidak terwarnai jelas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak antosianin ubi jalar ungu berpotensi digunakan sebagai alternatif pewarna alami untuk eritrosit dan trombosit, namun belum efektif untuk pewarnaan leukosit.
Copyrights © 2026