Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan menganalisis peran literasi digital kritis sebagai tameng ideologi mahasiswa dalam menangkal infiltrasi informasi negatif di ruang siber. Melalui metode Systematic Literature Review (SLR), artikel ini menganalisis artikel ilmiah primer yang diterbitkan antara tahun 2021 hingga 2026 yang mengeksplorasi hubungan antara literasi digital, kemampuan analitis, berpikir kritis, toleransi politik, dan kesadaran privasi. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa literasi digital tidak boleh lagi dipandang sebatas kecakapan teknis instrumental, melainkan harus diintegrasikan sebagai kemampuan evaluasi kritis dan etis terhadap bias informasi. Konseptualisasi literasi digital kritis terbukti secara empiris meningkatkan kemampuan verifikasi sumber, memitigasi efek gelembung media (filter bubble), serta menumbuhkan toleransi demokratis yang sehat. Research gap yang berhasil diidentifikasi adalah minimnya model kurikulum pendidikan tinggi yang secara eksplisit menghubungkan kecakapan digital teknis dengan ketahanan ideologis nasional. Studi ini merekomendasikan sebuah strategi integratif multisektoral yang melibatkan reposisi peran dosen, reformasi kurikulum berbasis proyek kewargaan digital, dan kampanye sosial siber untuk membangun ketahanan kognitif mahasiswa.
Copyrights © 2026