Permasalahan banjir dan kekurangan air tanah di daerah permukiman semakin mengkhawatirkan seiring dengan berkurangnya lahan terbuka hijau dan meningkatnya volume sampah organik rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimalisasi pengelolaan lubang resapan biopori di daerah permukiman serta mengkaji peran edukasi lingkungan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung dan dokumentasi di kawasan permukiman yang telah menerapkan program biopori. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman serta triangulasi sumber dan teori untuk menjamin keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan biopori ditentukan oleh sinergi aspek teknis, faktor internal dan eksternal masyarakat, serta edukasi lingkungan yang berkelanjutan. Hambatan utama meliputi rendahnya partisipasi, keterbatasan keterampilan, kurangnya motivasi, dan lemahnya pemeliharaan. Strategi optimalisasi yang terintegrasi melalui perencanaan partisipatif, pelatihan teknis, monitoring berbasis komunitas, sistem insentif, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas sektor terbukti efektif mengatasi hambatan tersebut. Penelitian ini merekomendasikan penguatan program edukasi lingkungan berkelanjutan dan kebijakan pemerintah yang mendukung pengelolaan biopori secara terpadu di daerah permukiman.
Copyrights © 2026