Albumin merupakan protein globular utama dalam plasma darah yang memiliki peran krusial dalam tekanan osmotik koloid dan transportasi ligan. Ikan gabus (Channa striata) dikenal sebagai sumber albumin alami yang potensial untuk mengatasi hipoalbuminemia dan mempercepat penyembuhan luka pasca-operasi. Namun, efisiensi isolasi dan stabilitas struktural albumin sangat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang diterapkan. Tinjauan Naratif ini bertujuan untuk menyintesis berbagai metode isolasi albumin dari C. striata, baik konvensional maupun modern, serta menganalisis dampaknya terhadap karakteristik fisikokimia dan struktural protein yang dihasilkan. Penelusuran literatur dilakukan melalui database elektronik dan platform pengindeks komprehensif (Google Scholar, ResearchGate, dan SINTA) mencakup publikasi sepuluh tahun terakhir.Hasil tinjauan menunjukkan bahwa metode konvensional berbasis suhu (pengukusan dan perebusan) mampu memberikan rendemen tinggi namun rentan memicu denaturasi protein jika suhu melebihi 60oC. Sebaliknya, metode non-termal modern seperti Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE) dan hidrolisis enzimatik mampu menjaga integritas struktural albumin (berat molekul ~65–67 kDa pada SDS-PAGE) serta mempertahankan gugus fungsi Amida I dan II berdasarkan analisis FTIR. Di sisi lain, metode kimiawi seperti hidrolisis asam terkontrol menggunakan HCl encer dapat memecah ikatan peptida secara efektif dan meningkatkan kadar protein serta albumin seiring bertambahnya jumlah pelarut dan waktu hidrolisis. Regulasi pH pada titik isoelektrik (pH 4,5-4,6) terbukti efektif mengoptimalkan purifikasi albumin terisolasi. Tinjauan ini menyimpulkan bahwa pemilihan metode isolasi harus menyeimbangkan antara aspek kuantitas (rendemen) dan kualitas struktural (bioaktivitas) albumin untuk aplikasi sediaan farmasi.
Copyrights © 2026