Penelitian ini menganalisis heterogenitas jalur transmisi policy rate Bank Indonesia terhadap inflasi di Indonesia periode 2010–2025 melalui empat jalur, yaitu ekspektasi harga penjual (Indeks Ekspektasi Harga/IEH), nilai tukar, harga aset (IHSG), dan kredit modal kerja. Penelitian menggunakan data bulanan sebanyak 192 observasi dengan metode Local Projection Impulse Response Function (LP-IRF), Structural Vector Autoregression Forecast Error Variance Decomposition (SVAR-FEVD), analisis heterogenitas berdasarkan rezim inflasi, serta uji ketahanan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh jalur transmisi memberikan respons inflasi yang signifikan, tetapi dengan kecepatan dan kekuatan yang berbeda. Berdasarkan respons awal, jalur nilai tukar bekerja paling cepat, diikuti harga aset, ekspektasi harga penjual, dan kredit modal kerja. Berdasarkan respons puncak, harga aset memberikan pengaruh paling cepat, diikuti ekspektasi harga penjual, kredit modal kerja, dan nilai tukar. Hasil SVAR-FEVD menunjukkan kontribusi own shock inflasi menurun seiring waktu, sementara kontribusi terbesar terhadap variasi inflasi berasal dari ekspektasi harga penjual, diikuti harga aset, nilai tukar, dan kredit modal kerja. Analisis berdasarkan rezim inflasi menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter lebih kuat pada kondisi inflasi tinggi. Jalur ekspektasi harga penjual hanya signifikan pada rezim inflasi tinggi, sedangkan nilai tukar, harga aset, dan kredit memberikan respons yang lebih besar dibandingkan rezim inflasi rendah. Uji ketahanan mengonfirmasi konsistensi hasil, sehingga efektivitas kebijakan moneter perlu dievaluasi berdasarkan horizon waktu, kontribusi masing-masing jalur, dan kondisi inflasi.
Copyrights © 2026