Kesalahan dalam menyusun pembuktian matematis merupakan fenomena yang lazim ditemukan pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya pada mata pelajaran yang menuntut penalaran deduktif ketat. Sebagian besar penelitian terdahulu berhenti pada identifikasi jenis dan penyebab kesalahan, tanpa menelusuri bagaimana proses berpikir siswa bergerak dari menyadari kesalahan hingga berhasil atau gagal memperbaikinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis trayektori metakognitif 18 siswa kelas IX Desain Komunikasi Visual (DKV) SMK Negeri 3 Blitar saat memperbaiki kesalahan dalam pembuktian teorema geometri. Subjek dipilih secara purposif berdasarkan hasil kerja pembuktian yang mengandung kesalahan dan diklasifikasikan ke dalam tiga kategori awal metakognisi (tinggi, sedang, rendah). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus instrumental, data dikumpulkan melalui survei metakognisi, wawancara stimulated recall, dan analisis dokumen, lalu dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga pola trayektori metakognitif dari keseluruhan subjek, yaitu trayektori linear-progresif (6 siswa), siklis-berulang (9 siswa), dan stagnan (3 siswa), yang dibedakan oleh kemampuan siswa beralih dari fase evaluasi ke regulasi strategi. Siswa dengan trayektori linear-progresif menunjukkan transisi mulus dan mampu mengartikulasikan alasan revisi, sedangkan siswa dengan trayektori stagnan terjebak pada kesadaran superfisial tanpa regulasi strategi yang efektif. Temuan ini memperluas kerangka regulasi diri Zimmerman dengan menunjukkan bahwa keberhasilan perbaikan pembuktian ditentukan oleh kualitas transisi antarfase metakognitif, bukan intensitas kesadaran semata. Implikasinya, pembelajaran pembuktian matematis perlu dirancang untuk secara eksplisit melatih transisi tersebut.
Copyrights © 2026