Pembelajaran peluang menuntut siswa menghubungkan intuisi tentang kejadian acak dengan representasi dan aturan formal, tetapi proses ini sering terganggu oleh pemahaman prosedural dan miskonsepsi probabilistik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesulitan konseptual dan miskonsepsi dalam pembelajaran peluang serta menganalisis bagaimana siswa memaknai peran aktivitas eksperimen dalam memahami hubungan peluang empiris dan teoretis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data berasal dari wawancara semi-terstruktur dengan empat guru matematika sekolah menengah dan angket refleksi pascaeksperimen dari tiga pasangan respons yang melibatkan enam siswa kelas X pada satu sekolah. Siswa telah melakukan eksperimen pelemparan koin dan dadu. Instrumen wawancara dan angket telah melalui validasi isi oleh tiga dosen matematika sebelum digunakan. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, perbandingan lintas-sumber, dan interpretasi. Hasil menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, kesulitan siswa terutama muncul ketika harus mentransfer rumus ke konteks baru, terutama pada kombinasi dan permutasi, sehingga pemahaman tampak lebih prosedural daripada konseptual. Kedua, data guru dan refleksi siswa memperlihatkan jejak miskonsepsi tentang keacakan dan independensi kejadian. Ketiga, eksperimen membantu siswa menjelaskan peluang empiris secara lebih konkret dan membedakannya dari peluang teoretis, tetapi siswa tetap membutuhkan penjelasan konseptual dan latihan terstruktur. Temuan menegaskan bahwa pengalaman empiris berpotensi menjadi jembatan menuju formalisasi, bukan pengganti penguatan konsep.
Copyrights © 2026