Maria Angelina Sutardi
Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KESULITAN KONSEPTUAL DAN PERAN AKTIVITAS EKSPERIMEN DALAM PEMBELAJARAN PELUANG: PERSPEKTIF GURU DAN REFLEKSI SISWA Kristianus Viktor Pantaleon; Patrisius Aryanto Wesa; Maria Angelina Sutardi; Maria Yuyanti Sumarni; Prisilia Karista Pajo; Laurensia O. Rohana
JP2MS Vol 10 No 2 (2026): Agustus
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jp2ms.10.2.248-257

Abstract

Pembelajaran peluang menuntut siswa menghubungkan intuisi tentang kejadian acak dengan representasi dan aturan formal, tetapi proses ini sering terganggu oleh pemahaman prosedural dan miskonsepsi probabilistik. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesulitan konseptual dan miskonsepsi dalam pembelajaran peluang serta menganalisis bagaimana siswa memaknai peran aktivitas eksperimen dalam memahami hubungan peluang empiris dan teoretis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis. Data berasal dari wawancara semi-terstruktur dengan empat guru matematika sekolah menengah dan angket refleksi pascaeksperimen dari tiga pasangan respons yang melibatkan enam siswa kelas X pada satu sekolah. Siswa telah melakukan eksperimen pelemparan koin dan dadu. Instrumen wawancara dan angket telah melalui validasi isi oleh tiga dosen matematika sebelum digunakan. Data dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, perbandingan lintas-sumber, dan interpretasi. Hasil menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, kesulitan siswa terutama muncul ketika harus mentransfer rumus ke konteks baru, terutama pada kombinasi dan permutasi, sehingga pemahaman tampak lebih prosedural daripada konseptual. Kedua, data guru dan refleksi siswa memperlihatkan jejak miskonsepsi tentang keacakan dan independensi kejadian. Ketiga, eksperimen membantu siswa menjelaskan peluang empiris secara lebih konkret dan membedakannya dari peluang teoretis, tetapi siswa tetap membutuhkan penjelasan konseptual dan latihan terstruktur. Temuan menegaskan bahwa pengalaman empiris berpotensi menjadi jembatan menuju formalisasi, bukan pengganti penguatan konsep.