Penelitian ini mengkaji fenomena estetika dalam puisi "Sajak Putih" karya Chairil Anwar yang menunjukkan anomali tematis berupa optimisme dan romantisme, bertolak belakang dengan mayoritas karyanya yang cenderung kelam dan eksistensial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bentuk dan fungsi foregrounding (aktualisasi) dalam puisi tersebut menggunakan pendekatan stilistika perspektif Jan Mukařovský. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan model kerja analisis teks sastra melalui tahapan interpretasi, analisis kontras otomatisasi-aktualisasi, dan penarikan kesimpulan. Validitas data dijamin melalui teknik triangulasi teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chairil Anwar secara sadar melakukan de-otomatisasi bahasa pada tiga tataran linguistik utama untuk menggeser fungsi komunikasi praktis menjadi fungsi estetis murni. Pada tataran fonologis, de-otomatisasi mewujud melalui dominasi asonansi vokal /a/ dan /i/ yang menciptakan musikalitas intim. Pada tataran leksikal, penggunaan diksi metaforis yang tidak lazim seperti kolokasi "hitam matamu kembang mawar dan melati" berhasil membongkar makna denotatif konvensional menjadi interpretasi romantis-spiritual. Pada tataran sintaksis, gaya personifikasi ekstrem pada frasa "sepi menyanyi" mengubah atmosfer kesunyian menjadi entitas yang dinamis. Penelitian ini memberikan kebaruan teoretis bahwa teknik foregrounding tidak hanya efektif untuk mengekspresikan pemberontakan, tetapi juga kokoh dalam mengaktualisasikan intensitas romantisme yang terstruktur.
Copyrights © 2026