Oral health promotion among school-aged children requires approaches that improve knowledge while encouraging active participation. The Senyumku Sehat Program aimed to evaluate changes in oral health knowledge and establish Young Dental Health Cadres as a school-based empowerment mechanism. This community service program involved 176 students from Grades 1–4 at MI PSM Gempolan 2, Kediri Regency, Indonesia, using a one-group pre-test–post-test design. Knowledge was assessed using a ten-item questionnaire before and immediately after interactive oral health education. The overall median score increased from 45 to 65, with all participants achieving higher post-test scores (Z = −12.047, p<0.001; r = 0.91). Significant improvements occurred in all grades (all p<0.001). Knowledge gains differed significantly across grade levels (H = 16.82, p<0.001), with Grade 4 demonstrating significantly greater gains than Grades 1–3. Eight students were established as Young Dental Health Cadres for one academic year under teacher supervision, supported by cadre pins, a rotating trophy, and a guidance book as planned continuity mechanisms. The program was associated with substantial immediate knowledge improvement while establishing a structured school-based cadre mechanism. Longitudinal evaluation is required to assess knowledge retention, cadre effectiveness, and program sustainability. Abstrak. Promosi kesehatan gigi dan mulut pada anak usia sekolah memerlukan pendekatan yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif. Program Senyumku Sehat bertujuan untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut serta membentuk Kader Kesehatan Gigi Cilik sebagai mekanisme pemberdayaan berbasis sekolah. Program pengabdian kepada masyarakat ini melibatkan 176 siswa kelas 1–4 di MI PSM Gempolan 2, Kabupaten Kediri, Indonesia, dengan menggunakan desain one-group pre-test–post-test. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner yang terdiri atas sepuluh butir sebelum dan segera setelah pemberian edukasi kesehatan gigi dan mulut secara interaktif. Skor median keseluruhan meningkat dari 45 menjadi 65, dengan seluruh peserta menunjukkan skor post-test yang lebih tinggi (Z = −12,047, p < 0,001; r = 0,91). Peningkatan yang signifikan terjadi pada seluruh tingkat kelas (semua p < 0,001). Peningkatan pengetahuan juga berbeda secara signifikan antarjenjang kelas (H = 16,82, p < 0,001), dengan siswa kelas 4 menunjukkan peningkatan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan siswa kelas 1–3. Delapan siswa ditetapkan sebagai Kader Kesehatan Gigi Cilik selama satu tahun ajaran di bawah supervisi guru, dengan dukungan berupa pin kader, piala bergilir, dan buku panduan sebagai mekanisme keberlanjutan program yang telah direncanakan. Program ini berkaitan dengan peningkatan pengetahuan secara langsung yang substansial sekaligus berhasil membentuk mekanisme kader berbasis sekolah yang terstruktur. Evaluasi longitudinal diperlukan untuk menilai retensi pengetahuan, efektivitas kader, dan keberlanjutan program.
Copyrights © 2026