Stunting remains a major public health concern in Indonesia, particularly in areas with limited resources and access to health services. This community service program aimed to strengthen posyandu cadre knowledge and practical skills in child growth monitoring, health education, and stunting prevention through participatory training supported by the Ibu Hebat Anak Sehat educational book. Thirty cadres from five posyandu in the Puskesmas Fakfak catchment area participated in a two-day program involving needs assessment, interactive learning, practical simulation, supervised field application, reflection, and follow-up mentoring. Knowledge was assessed using a validated 20-item questionnaire before and after training, while practical skills were assessed using a structured 10-item observation checklist. The mean knowledge score increased from 58.3 (SD = 12.4) before training to 86.5 (SD = 8.7) after training, with a mean difference of 28.2 points (p < 0.001). The proportion of cadres with good knowledge increased from 13.3% to 80.0%. All 30 cadres achieved the predefined practical competency threshold of at least 18 of 20 points. Qualitative findings indicated increased confidence, perceived usefulness of the educational book, and continued need for mentoring and supervision. The program was associated with improved cadre knowledge and observed practical performance, while longer-term effects require further evaluation. Abstrak. Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya dan akses terhadap pelayanan kesehatan. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis kader posyandu dalam pemantauan pertumbuhan anak, edukasi kesehatan, dan pencegahan stunting melalui pelatihan partisipatif yang didukung oleh buku edukasi Ibu Hebat Anak Sehat. Sebanyak 30 kader dari lima posyandu di wilayah kerja Puskesmas Fakfak mengikuti program selama dua hari yang mencakup asesmen kebutuhan, pembelajaran interaktif, simulasi praktik, penerapan lapangan dengan supervisi, refleksi, dan pendampingan tindak lanjut. Pengetahuan kader diukur menggunakan kuesioner tervalidasi yang terdiri atas 20 butir sebelum dan setelah pelatihan, sedangkan keterampilan praktis dinilai menggunakan daftar tilik observasi terstruktur yang terdiri atas 10 butir. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 58,3 (SD = 12,4) sebelum pelatihan menjadi 86,5 (SD = 8,7) setelah pelatihan, dengan selisih rerata sebesar 28,2 poin (p < 0,001). Proporsi kader dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 13,3% menjadi 80,0%. Seluruh 30 kader mencapai ambang kompetensi praktis yang telah ditetapkan, yaitu sekurang-kurangnya 18 dari total 20 poin. Temuan kualitatif menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri kader, persepsi positif terhadap kebermanfaatan buku edukasi, serta kebutuhan berkelanjutan terhadap pendampingan dan supervisi. Program ini berkaitan dengan peningkatan pengetahuan kader dan kinerja praktis yang teramati, sedangkan dampak jangka panjangnya masih memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Copyrights © 2026