Musik gerejawi yang dalam konteks ini diarahkan pada pentingnya peran musisi gereja dalam menyajikan musik yang baik pada ibadah gereja. Buku logu yang selama ini menjadi rujukan bagi musisi gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) lambat laun mulai ‘ditinggalkan’ karena dibutuhkan proses panjang untuk dapat membaca dan memainkannya dengan benar, ditambah lagi dengan hadirnya varian atau format musik baru dalam mengiringi ibadah di gereja HKBP yang cenderung semakin ‘mengaburkan’ konsep atau landasan yang digunakan sebagai panduan mereka dalam menyajikan musik. Pada posisi ini, pelatihan praktik membaca buku logu bagi musisi gereja dalam mengiringi nyanyian ibadah menjadi bagian penting untuk mengembalikan ‘citra’ musik gereja HKBP. Pelatihan seperti ini perlu dilakukan secara berkelanjutan di berbagai gereja HKBP, tidak terkecuali di gereja HKBP Patumbak. Pada kesempatan ini, penulis memberikan empat pola mengiringi lagu “Hupuji Holong Ni” (Buku Logu No.110). Pola pertama dan pola kedua diperuntukkan bagi mereka yang sudah memiliki keahlian dalam membaca notasi dan memainkannya. Pola ketiga dan keempat diperuntukkan bagi mereka yang belajar secara otodidak. Penentuan akord untuk pola ketiga dan keempat disarankan agar selalu didekatkan dengan sistem empat suara berdasarkan buku logu, hal ini perlu dilakukan agar progresi akord tidak menyimpang jauh dari yang seharusnya. Hasil dari pengabdian ini adalah memberikan pemahaman bagi musisi gereja HKBP Patumbak dan sekaligus membuka diri terhadap penggunaan buku logu sebagai panduan dalam menentukan style, harmoni, irama, tempo, dan melodi
Copyrights © 2024