Pelayanan Rasul Paulus merupakan model teladan dalam membangun relasi pelayanan yang setara, menghargai rekan kerja, dan menempatkan Kristus sebagai pusat. Namun, fenomena pelayanan gereja masa kini menunjukkan pergeseran nilai: banyak pelayan Tuhan lebih berfokus pada pencitraan diri, mengejar jabatan, dan minim penghargaan terhadap kolaborasi dalam tubuh Kristus. Pelayanan menjadi ajang kompetisi, bukan lagi partisipasi dalam misi Allah. Kajian ini bertujuan meninjau secara teologis-praktis teladan pelayanan Paulus, untuk dibandingkan dengan praktik pelayanan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur terhadap teks-teks Paulus dan fenomena organisasi gereja masa kini. Hasil temuan menunjukkan bahwa Paulus menekankan kerja tim, menyebut rekan-rekannya dengan penuh hormat (contohnya Priskila-Akwila), dan tidak membangun pelayanan atas dasar ambisi pribadi. Ia juga terbuka terhadap koreksi dan menjaga integritas rohani. Sebaliknya, praktik pelayanan masa kini kerap menampilkan struktur hierarkis yang elitis, minim evaluasi teologis, dan miskin pembinaan karakter rohani. Kesimpulannya, teladan Paulus perlu diangkat kembali sebagai model pelayanan kontemporer yang relevan. Gereja perlu membangun budaya pelayanan yang kolaboratif, rendah hati, dan berbasis pada spiritualitas Kristus, bukan sekadar struktur organisasi atau popularitas pribadi.
Copyrights © 2025