cover
Contact Name
Lusyana Yosepha Winata
Contact Email
lucyoey@yahoo.com
Phone
+628128956799
Journal Mail Official
lucyoey25@gmail.com
Editorial Address
Jl. Helvetia By Pass, Kapten Sumarsono / Gg. Aronta No. 78, Kec. Sunggal, Deliserdang, Medan.
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
New Hope
ISSN : 31232515     EISSN : 31232515     DOI : -
Core Subject :
Bertujuan : menjadi media penyampaian hasil penelitian dalam bidang teologi dan disiplin ilmu lainnya, mengembangkan berbagai kelimuan dalam konteks Indonesia dan Asia, dengan latar belakang aneka ragam adat, budaya, dan perkembangan isu-isu kehidupan berbangsa, memberikan kontribusi yang berarti dalam menyebarluaskan hasil penelitian yang bersifat edukatif dan memberikan sumbangsih terhadap perkembangan pengetahuan dan ketrampilan semua praktisi dalam berbagai disiplin ilmu, khususnya Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Lingkup kajian penelitian: Teologi Sistematika-Konstruktif, Teologi Biblikal-Kontekstual, Teologi Digital dan Internet of Things, Teologi dan Religiositas, Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat Gereja, Pendidikan Kristiani, Gereja, Misi, dan Masyarakat Kepemimpinan Kristen dan Gerejawi, Implementasi pengajaran yang alkitabiah
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Karya Roh Kudus Menginspirasi Penyembahan Berdasarkan Filipi 3:3  Dan Aplikasinya Bagi Ibadah Gereja Yunike Angelina
NEWHOPE Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyembahan dalam konteks Kristen bukan sekadar aktivitas liturgis, melainkan respons spiritual yang lahir dari karya Roh Kudus dalam hati orang percaya. Karya Roh Kudus memainkan peranan penting dalam menginspirasi penyembahan terutama di dalam gereja. FirmanNya dalam Kitab Filipi 3:3 menegaskan bahwa umat Allah adalah mereka yang “beribadah oleh Roh Allah,” seharusnya tidak bergantung pada hal-hal lahiriah dan sebaliknya, malah bermegah dalam Kristus Yesus. Ayat ini menjadi dasar teologis yang penting untuk memahami bahwa penyembahan sejati bersumber dari dorongan dan pimpinan Roh Kudus. Penyembahan kepada Tuhan harus dilakukan dalam roh dan kebenaran. Penyembahan yang sejati bukan hasil usaha manusia, melainkan respons terhadap karya Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Roh Kudus mengarahkan hati dan pikiran orang percaya kepada Tuhan, memberi pemahaman yang benar tentang siapa Dia dan apa yang telah dilakukan-Nya dalam hidup mereka. Tanpa Roh Kudus, penyembahan menjadi sekadar ritual tanpa makna. Roh Kudus membimbing orang percaya untuk menyembah Tuhan dengan hati yang tulus dan penuh pengabdian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana karya Roh Kudus menginspirasi penyembahan yang otentik dan transformatif, serta bagaimana prinsip tersebut dapat diterapkan dalam ibadah di gereja pada masa kini. Melalui pendekatan teologis, ditemukan bahwa Roh Kudus berperan sebagai penggerak utama dalam membentuk sikap hati menyembah, memperbarui kehidupan rohani jemaat, dan memampukan mereka untuk menyembah dalam roh dan kebenaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, studi kepustakaan. Aplikasi praktis dalam ibadah di gereja mencakup penataan liturgi yang memberi ruang bagi karya Roh Kudus, menolong pemimpin ibadah untuk lebih peka terhadap tuntunan-Nya, serta pembinaan kepada jemaat untuk mengalami penyembahan yang bersifat pribadi dan komunitas secara lebih mendalam. Dengan demikian, gereja dipanggil untuk tidak hanya mempertahankan bentuk ibadah, tetapi juga memastikan bahwa setiap elemen ibadah dipenuhi dan digerakkan oleh kehadiran Roh Kudus.
Mengenai Perkataan "Tetelestai" Dalam Yohanes 19:30 Dan Implikasi Kehidupan Berdosa Pemimpin Rohani Di Gereja Borneo Evangelical Mission (BEM) Sarawak Malaysia Janeson RABAR
NEWHOPE Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis makna teologis dari perkataan Tetelestai dalam Yohanes 19:30 serta menelaah implikasi kehidupan berdosa para pemimpin rohani di Gereja Borneo Evangelical Mission (BEM) Sarawak. Permasalahan berangkat dari ketegangan antara deklarasi Yesus tentang penyelesaian karya keselamatan dan realitas moral sebagian pelayan Tuhan yang hidup dalam dosa, baik secara terbuka maupun tersembunyi. Kajian ini menggunakan pendekatan analisis makna biblis terhadap Tetelestai, dikombinasikan dengan telaah teologis dan studi kasus kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tetelestai bukan sekadar pernyataan akhir, melainkan deklarasi kemenangan yang menuntut kehidupan kudus, khususnya dari para pemimpin rohani. Fenomena hidup dalam dosa oleh pelayan Tuhan berimplikasi serius terhadap pemahaman jemaat mengenai karya penebusan Kristus, yang dapat melemahkan iman sekaligus merusak integritas pelayanan. Dengan demikian, kontribusi artikel ini adalah menegaskan kembali pentingnya integritas pelayanan sebagai refleksi dari karya Kristus yang telah diselesaikan serta panggilan bagi pertobatan dan pembaruan hidup dalam tubuh Kristus.
Peran Logika Dalam Tindakan Iman Dan Relevansinya Dalam Kehidupan Kekristenan Eddy Danukusumah; Jameson Silalahi
NEWHOPE Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembicaraan tentang logika dan iman bukan merupakan hal yang baru untuk dibicarakan, namun hal ini tidak jarang menjadi konflik di tengah umat kristiani di masa kini. Logika merupakan filsafat, ilmu dan sekaligus seni dalam berfikir yang benar. Sedangkan tindakan iman merupakan kerelaan seseorang untuk mengorbankan diri dalam imannya. Manusia diciptakan berdasarkan keserupaan dengan Allah, juga tentang kemampuan berpikir yang menjadi salah satu bagiaan dari keserupaan tersebut, maka tindakan pemaksimalan akal budi atau logika yang telah diberikan kepada kita merupakan salah satu cara kita untuk memuliakan Allah. Sayangnya kehidupan nyata dan perkembangan jaman perlahan membawa manusia kepada pemahamannya sendiri yang berdasarkan logika. Seiring kemajuan teknologi seakan memberi arus perubahan dari fundamen yang berlandaskan kebenaran dalam Alkitab menuju kepada independensi manusiawi yang mengandalkan logika. Logika berperan dalam pengambilan keputusan saat harus bertindak, termasuk saat seseorang mengambil keputusan tindakan iman. Tujuan penelitian ini ialah untuk meninjau peran logika dalam tindakan iman dan relevansinya dalam kehidupan kekristenan. Peneliti menggunakan metode penelitian kombinasi yang merupakan perpaduan antara penelitian kuantitatif dan kualitatif.
Teladan Paulus Dalam Pelayanan Kontemporer, Tinjauan Teologis Praktis Esra Soru; Lusyana Yosepha Winata
NEWHOPE Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan Rasul Paulus merupakan model teladan dalam membangun relasi pelayanan yang setara, menghargai rekan kerja, dan menempatkan Kristus sebagai pusat. Namun, fenomena pelayanan gereja masa kini menunjukkan pergeseran nilai: banyak pelayan Tuhan lebih berfokus pada pencitraan diri, mengejar jabatan, dan minim penghargaan terhadap kolaborasi dalam tubuh Kristus. Pelayanan menjadi ajang kompetisi, bukan lagi partisipasi dalam misi Allah. Kajian ini bertujuan meninjau secara teologis-praktis teladan pelayanan Paulus, untuk dibandingkan dengan praktik pelayanan kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur terhadap teks-teks Paulus dan fenomena organisasi gereja masa kini. Hasil temuan menunjukkan bahwa Paulus menekankan kerja tim, menyebut rekan-rekannya dengan penuh hormat (contohnya Priskila-Akwila), dan tidak membangun pelayanan atas dasar ambisi pribadi. Ia juga terbuka terhadap koreksi dan menjaga integritas rohani. Sebaliknya, praktik pelayanan masa kini kerap menampilkan struktur hierarkis yang elitis, minim evaluasi teologis, dan miskin pembinaan karakter rohani. Kesimpulannya, teladan Paulus perlu diangkat kembali sebagai model pelayanan kontemporer yang relevan. Gereja perlu membangun budaya pelayanan yang kolaboratif, rendah hati, dan berbasis pada spiritualitas Kristus, bukan sekadar struktur organisasi atau popularitas pribadi.
Kualitas Hati Pemimpin Kristen Bagi Pertumbuhan Gereja Masa Kini Yosep Budi Setiawan; Gatot Subijanto
NEWHOPE Vol 1 No 1 (2025): Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan gereja tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah anggota saja, akan tetapi juga dari kedewasaan iman dan karakter jemaat. Kepemimpinan Kristen masa kini menghadapi tantangan kompleks yang menuntut pemimpin dengan hati yang tulus, mampu menerima visi rohani dari Tuhan sekaligus beradaptasi dengan perubahan sosial dan teknologi. Kualitas hati pemimpin Kristen sangat penting untuk mengelola pergumulan dan memperkuat pondasi spiritual. Sifat negatif seperti kesombongan, rasa takut, kelelahan (burnout), dan kemunafikan dapat menghambat pertumbuhan rohani dan efektivitas pelayanan. Kesombongan menghalangi sikap rendah hati dan kerjasama, ketakutan membatasi pengambilan keputusan berani, sedangkan burnout menimbulkan kelelahan fisik dan mental yang menurunkan kualitas pelayanan. Sebaliknya, kepemimpinan Kristen yang sehat menunjukkan kerendahan hati, ketergantungan penuh pada Tuhan, dan belas kasih tulus kepada jemaat. Pemimpin sejati takut akan Tuhan, siap menerima koreksi, dan mengabdikan diri seutuhnya dalam pelayanan. Pemimpin seperti ini mampu menggerakkan komunitas gereja menjadi inklusif, adaptif, dan produktif, menjaga relevansi gereja dalam tantangan zaman. Memahami kualitas hati pemimpin Kristen adalah dasar penting untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan demi pertumbuhan gereja yang berkualitas secara rohani dan organisasi.
Peran Teopreneurship dalam Membangun Bisnis yang Sustainable Sesuai dengan Nilai Kekristenan Eddy Danukusumah; Yemima Claudia Tannos
NEWHOPE Vol 2 No 1 (2026): New Hope: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dunia semakin cepat, begitu juga dengan dunia usaha pada masa kini. Dengan kemajuan pesat, tentu semakin banyak tantangan yang ada, khususnya bagi pelaku usaha Kristen. Seringkali ditemukan pengusaha yang mengabaikan nilai moral, tanggung jawab sosial, dan lingkungan alam sekitar demi meraup keuntungan yang lebih besar. Jurnal ini bertujuan untuk mendalami bagaimana Peran Teopreneurship dalam Membangun Bisnis yang Sustainable Sesuai dengan Nilai Kekristenan. Jurnal ini dikaji dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur melalui sumber artikel dan jurnal yang membahas tentang Teopreneurship, Biblical Entrepreneurship, dan Etika Kristen. Dalam mengelola usaha, harus berlandaskan integritas, kasih, keadilan, dan panggilan iman. Melalui penelitian jurnal ini, dapat disimpulkan bahwa Teopreneurship dapat membantu membentuk bisnis yang sustainable, beretika, dan relevan, sekaligus menjadi sarana kesaksian iman Kristen di tengah masyarakat.
Membangun Manusia Beriman Pada Era Revolusi Industri 4.0 atau Society 5.0 Yunike Angelina
NEWHOPE Vol 2 No 1 (2026): New Hope: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menghadirkan tantangan besar bagi pembangunan manusia beriman, dimana perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan integrasi sistem siber-fisik dapat berpotensi menggeser nilai-nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan. Masalah utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana menjaga dan menumbuhkan iman di tengah arus modernisasi yang sering menekankan efisiensi, materialisme, dan individualisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi pendidikan dan pembinaan iman Kristen yang relevan dengan konteks era digital, sehingga manusia tidak hanya cerdas secara teknologi tetapi juga memiliki fondasi iman dan spiritual yang kokoh. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif, mengkaji teori-teori tentang Revolusi Industri 4.0, Konsep Society 5.0, serta perspektif teologis dan pedagogis mengenai pembentukan iman Kristiani di kedua masa tersebut. Analisis dilakukan dengan menelaah sumber-sumber akademik, dokumen kebijakan, serta refleksi praktis dari konteks kehidupan beragama. Hasil temuan menunjukkan bahwa integrasi iman dan teknologi dapat diwujudkan melalui pendidikan karakter berbasis nilai spiritual, pemanfaatan media digital untuk pengajaran iman, serta penguatan komunitas beriman yang adaptif terhadap perubahan zaman. Selain itu, ditemukan bahwa manusia beriman pada era ini dituntut untuk memiliki literasi digital yang kritis, sehingga mampu menggunakan teknologi sebagai sarana pelayanan dan pengembangan diri, bukan sekadar konsumsi pasif. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa membangun manusia beriman di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 memerlukan pendekatan yang holistik yang menggabungkan aspek spiritual, intelektual, sosial, dan teknologi. Dengan demikian, iman Kristen tidak hanya menjadi benteng moral, tetapi juga sumber inspirasi dalam menghadapi kompleksitas dunia modern saat ini.
Refleksi dan Implementasi Kewirausahaan Alkitabiah Sonang Aritonang
NEWHOPE Vol 2 No 1 (2026): New Hope: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bisnis adalah suatu kata yang mungkin berkonotasi negatif bagi orang Kristen karena sangat melekat dengan praktek-praktek kotor dalam dunia ini. Ketika berbicara mengenai bisnis maka sebagian orang cenderung akan langsung berpikir tentang usaha untuk mendapatkan keuntungan materi. Tidak menherankan kalau kecenderungan untuk berpikir negatif tentang bisnis memenuhi benak orang karena melihat praktek-praktek bisnis yang tidak baik dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana orang Kristen menanggapi fakta-fakta bisnis di atas. Tulisan ini akan membahas dasar-dasar tentang Keriwausahaan Alkitabiah dan contoh implementasinya dalam pelayanan gereja. Pertama-tama akan dibahas konsep Keriwausahaan Alkitabiah, bagian selanjutnya akan melihat bentuk dan model Keriwausahaan Alkitabiah, dan bagian terakhir memberikan contoh implementasi Keriwausahaan Alkitabiah dalam gereja dan pelayanan. Sebagai kesimpulan, orang Kristen harus masuk ke dalam dunia bisnis dan meneranginya dengan praktek-praktek bisnis yang benar. Kewirausahaan Alkitabiah menawarkan dan mendorong orang Kristen yang mau melakukan bisnis dengan mengutamakan prinsip-prinsip Firman Allah dalam Kitab Suci.
GEREJA SEBAGAI TUBUH KRISTUS MENURUT 1 KORINTUS 12 Elizabeth Ina Yumawati; Kezia Vanessy Soebijantono; Nathanail Sitepu
NEWHOPE Vol 2 No 1 (2026): New Hope: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas konsep gereja sebagai tubuh Kristus dalam 1 Korintus 12 dengan menitikberatkan pada makna kesatuan di tengah keberagaman jemaat. Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana Rasul Paulus memahami relasi antara keberagaman karunia rohani dan kesatuan gereja dalam konteks jemaat Korintus yang mengalami perpecahan. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan makna teologis metafora tubuh Kristus serta relevansinya bagi kehidupan gereja masa kini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode eksegesis biblika terhadap teks 1 Korintus 12. Analisis dilakukan melalui kajian konteks historis jemaat Korintus, penelaahan struktur teks, serta studi terhadap istilah-istilah penting dalam bahasa Yunani yang berkaitan dengan konsep tubuh dan kesatuan. Penelitian ini juga didukung oleh studi kepustakaan dari berbagai sumber teologi Paulus dan ekklesiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menggunakan metafora tubuh untuk menegaskan bahwa gereja merupakan satu kesatuan yang terdiri dari berbagai anggota dengan fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. Keberagaman karunia rohani dipahami sebagai anugerah Allah yang diberikan untuk membangun jemaat, bukan sebagai alasan perpecahan. Selain itu, Kristus dipahami sebagai kepala gereja yang menjadi pusat kehidupan dan arah pelayanan jemaat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep gereja sebagai tubuh Kristus menekankan pentingnya kesatuan, ketergantungan antaranggota, serta kepemimpinan Kristus dalam kehidupan gereja. Pemahaman ini relevan bagi gereja masa kini dalam membangun solidaritas, kerja sama, dan kesaksian iman di tengah keberagaman.
TINJAUAN BIBLIKA TENTANG PRAKTIK PEMUNGUTAN RIBA DI ERA DIGITALISASI INDUSTRI PERBANKAN Widhi Laksana
NEWHOPE Vol 2 No 1 (2026): New Hope: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Harapan Baru Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi di era digitalisasi saat ini memberikan kemudahan, kecepatan, efisiensi dan keakuratan, dalam setiap lini kehidupan masyarakat. Perkembangan teknologi di era digitalisasi tersebut membuahkan produk-produk perbankan, salah satunya produk pinjaman. Produk pinjaman tersebut membebankan bunga pinjaman yang berpotensi melakukan praktik pemungutan riba. Melalui fenomena tersebut, penulis menggunakan metode analisis dalam pendekatan kualitatif deskriptif, meninjau secara obyektif, dengan didukung secara literal, kemudian meninjau secara teologi Kristen Biblika, selanjutnya menemukan sebuah simpulan tinjauan penulisan, sebagai berikut. Produk pinjaman berbunga pada industri perbankan secara prinsip Alkitab bertentangan karena berpotensi membawa kesengsaraan kepada pihak peminjam. Walaupun demikian memungkinkan dilakukan, pertama, tidak dilakukan dilingkungan umat atau gereja Tuhan. Kedua, tidak boleh dilakukan dengan motivasi memperkaya diri. Ketiga, pengelolaan harus dilakukan secara organisasi bukan perseorangan dan dibawah pengawasan pemerintah. Keempat, bertujuan menolong masyarakat khususnya mendukung modal usaha ataupun pengembangan usaha. Kelima, dilakukan dengan pembebanan bunga yang wajar, informatif dan tidak multiplikatif. Keenam, pengelolaan bunga sebagai operasional bukan modus pencarian kekayaan. Ketujuh, perlakuan kepada peminjam tidak memperbudak serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Kedelapan, dapat dilakukan dengan sistem bagi hasil dalam kesepakatan peminjam dan pemberi pinjaman. Penulisan ini memberikan tinjauan teologi Kristen Biblika terhadap praktik pemungutan riba di era digitalisasi industri perbankan, sehingga umat Kristen memiliki perspektif yang presisi dalam memandang, mempertimbangkan dan mengambil sikap sesuai dengan Alkitab yang adalah Firman Tuhan.

Page 1 of 1 | Total Record : 10