Beban akademik yang tinggi merupakan salah satu pemicu utama stres pada mahasiswa, khususnya di perguruan tinggi yang menerapkan kurikulum Outcome-Based Education (OBE), di mana keberhasilan mata kuliah tidak lagi diukur melalui tugas konvensional semata, melainkan menuntut luaran non-tugas seperti keikutsertaan lomba, publikasi ilmiah, atau penyelesaian proyek sebagai syarat kelulusan/penilaian. Tuntutan ini berpotensi menjadi sumber tekanan psikologis tambahan bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan level stres mahasiswa dilingkungan kampus Universitas Indonesia Membangun menggunakan algoritma Iterative Dichotomiser 3 (ID3) berbasis pohon keputusan. Data dikumpulkan dari 90 mahasiswa melalui kuesioner yang mencakup 31 atribut, meliputi faktor akademik (tuntutan luaran non-tugas kurikulum OBE, tekanan pencapaian luaran, beban proyek/publikasi), gaya hidup, serta gejala fisik dan emosional, terhadap enam kategori level stres. Perhitungan entropy dan information gain menunjukkan bahwa gejala fisik stres menjadi atribut akar (root node) dengan Gain tertinggi (0,3745), sementara tekanan untuk mencapai luaran non-tugas (Gain=0,3595) dan keberadaan syarat luaran non-tugas dalam kurikulum (Gain=0,2572) turut masuk dalam sepuluh atribut paling berpengaruh mengindikasikan bahwa tuntutan luaran berbasis OBE (lomba, publikasi, proyek) berkontribusi signifikan terhadap tingkat stres mahasiswa. Pohon keputusan yang dihasilkan menghasilkan 63 aturan klasifikasi IF-THEN yang dapat menjadi dasar deteksi dini risiko stres akademik. Temuan ini diharapkan menjadi masukan bagi institusi dalam merancang kebijakan dukungan akademik dan kesejahteraan psikologis mahasiswa di tengah implementasi kurikulum OBE
Copyrights © 2026