Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecerdasan emosional pemimpin, stres kerja, dan lingkungan kerja terhadap turnover intention pegawai pada Kantor Pusat Universitas Negeri Manado, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kantor Pusat Universitas Negeri Manado sebagai populasi penelitian. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan skala Likert. Analisis data menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional pemimpin, stres kerja, dan lingkungan kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap turnover intention pegawai dengan nilai signifikansi 0,000. Secara parsial, kecerdasan emosional pemimpin berpengaruh negatif dan signifikan terhadap turnover intention dengan koefisien regresi sebesar -0,249 dan signifikansi 0,036. Stres kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention dengan koefisien regresi sebesar 0,366 dan signifikansi 0,000, sedangkan lingkungan kerja berpengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien regresi sebesar -0,410 dan signifikansi 0,001. Nilai Adjusted R Square sebesar 0,616 menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut mampu menjelaskan 61,6% variasi turnover intention pegawai. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kecerdasan emosional pemimpin dan penciptaan lingkungan kerja yang kondusif dapat menekan turnover intention, sedangkan pengelolaan stres kerja diperlukan untuk mengurangi kecenderungan pegawai berpindah unit kerja. Oleh karena itu, instansi perlu memperkuat kualitas kepemimpinan, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, dan mengelola stres kerja secara efektif.
Copyrights © 2026