Isu pembaruan pendidikan Islam sering menghadapi dua kutub: konservasi normatif yang kurang responsif terhadap perubahan dan inovasi kurikulum yang berisiko kehilangan pijakan nilai. Artikel ini bertujuan menganalisis tajdid Muhammadiyah sebagai fondasi filsafat pendidikan serta menurunkan implikasinya bagi pembaruan kurikulum. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi pustaka dengan analisis isi terhadap literatur dan dokumen pemikiran pendidikan Muhammadiyah. Hasil kajian menunjukkan bahwa tajdid dipetakan ke dalam dua dimensi utama, yakni purifikasi (pemurnian orientasi akidah-ibadah dan etika keilmuan) dan dinamisasi (pembaruan pemikiran serta kelembagaan agar relevan dan solutif). Dari pemetaan tersebut dirumuskan fondasi filsafat pendidikan: ontologi insan hamba-khalifah berkemajuan (iman–ilmu–amal), epistemologi integratif wahyu–akal–pengalaman–realitas sosial dengan etos ilmu amaliah–amal ilmiah dan ijtihad kritis, serta aksiologi tauhid, kemanusiaan, keadilan, kemaslahatan, kemajuan, moderasi, dan spirit Al-Ma’un. Prinsip pembaruan kurikulum meliputi normatif, ilmiah, relevansi sosial, integrasi ilmu, dan pembentukan karakter/adab, yang berimplikasi pada perumusan tujuan/profil lulusan, pengorganisasian konten, strategi pembelajaran, asesmen autentik, serta penguatan kultur sekolah. Kajian ini berkontribusi menyediakan model konseptual untuk merancang dan mengevaluasi koherensi kurikulum berbasis tajdid.
Copyrights © 2026