Pengendalian persediaan spare part pada fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) diperlukan untuk menjamin ketersediaan material sekaligus meminimalkan risiko kelebihan stok. PT XYZ belum menerapkan pengelompokan spare part berdasarkan nilai konsumsi dan tingkat pergerakan sebagai dasar penetapan kebijakan persediaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spare part prioritas melalui integrasi klasifikasi ABC dan FSN serta menyusun rekomendasi pengendalian persediaan menggunakan metode Min–Max. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data primer berupa observasi dan wawancara serta data sekunder berupa histori persediaan, issued date, harga satuan, dan lead time terhadap 248 jenis spare part. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klasifikasi ABC menghasilkan 8 item kategori A dengan kontribusi 79,22% terhadap total nilai konsumsi persediaan, sedangkan klasifikasi FSN menghasilkan 81 item (33%) kategori fast moving dan 167 item (67%) kategori slow moving. Integrasi ABC–FSN mengidentifikasi lima spare part kategori A–Slow Moving sebagai prioritas pengendalian. Perhitungan metode Min–Max menghasilkan parameter safety stock, minimum stock, maximum stock, dan order quantity sesuai karakteristik kebutuhan dan lead time setiap item. Integrasi klasifikasi ABC–FSN dan metode Min–Max dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pengendalian persediaan yang lebih efektif untuk menjaga ketersediaan material dan mengurangi potensi dead stock.
Copyrights © 2026