Ketahanan energi pada tingkat wilayah bertumpu pada kemampuan fasilitas-fasilitas di dalamnya untuk mengenali kondisi energinya sendiri, namun pemantauan pada banyak fasilitas masih bergantung pada pemeriksaan panel secara berkala sehingga perubahan kondisi sering baru diketahui setelah berkembang menjadi gangguan. Penelitian ini memosisikan digitalisasi monitoring energi sebagai infrastruktur informasi ketahanan energi tingkat fasilitas dan menguji kelayakannya melalui prototipe sistem monitoring daya listrik tiga fasa berbasis Programmable Logic Controller (PLC) dan Internet of Things (IoT) di Laboratorium Energi PEM Akamigas, Cepu, Kabupaten Blora. Kelayakan tersebut dinilai melalui tiga kapasitas informasi, yaitu keandalan informasi, keterbacaan kondisi untuk deteksi dini, dan keterbandingan informasi sebagai kondisi acuan. Hasil pengujian menunjukkan sistem menyediakan informasi yang cukup dapat dipercaya, dengan rata-rata penyimpangan pengukuran 1,32% terhadap instrumen referensi pada lima parameter. Sistem juga menampakkan ketidakmerataan pembebanan yang tidak terbaca melalui pembacaan daya total, yakni konsentrasi 54,3% daya aktif pada satu fasa, serta merekam kondisi faktor daya, frekuensi, dan tegangan yang seluruhnya berada dalam batas standar operasi sehingga dapat dijadikan acuan pembanding antarperiode. Ketiga kapasitas tersebut merupakan prasyarat, bukan jaminan dimana manfaatnya bergantung pada kesiapan operator, prosedur kerja, dan kewenangan pengambilan keputusan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penurunan kerentanan energi dapat dimulai dari penguatan kapasitas informasi tingkat fasilitas, dan bahwa kontribusinya bagi ketahanan wilayah mensyaratkan standardisasi data, keamanan informasi, serta koordinasi kelembagaan antarfasilitas.
Copyrights © 2026