Background: The elderly are an age group vulnerable to cognitive decline, nutritional disorders, and reduced physical activity, all of which can negatively impact their quality of life. Bagelen Village in Pesawaran Regency has a significant elderly population; however, *Posyandu* (integrated health post) cadres for the elderly have never received orientation on cognitive function screening, resulting in suboptimal early detection of cognitive decline among the elderly. Purpose: To enhance the knowledge and skills of *Posyandu* cadres regarding cognitive function screening, nutritional status assessment, and monitoring of physical activity among the elderly, as a means of early detection of cognitive decline. Method: This community service activity was conducted on July 23, 2026, at the Bagelen Village Hall, Gedong Tataan District, Pesawaran Regency, Lampung Province. The activity targeted 30 active elderly *Posyandu* cadres from six *Posyandu* units in Bagelen Village. Participant knowledge levels and skills were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational session. Respondent skill levels were evaluated based on observations of simulations performed during screening practice sessions. The evaluation data were then analyzed descriptively to observe changes in the participants' knowledge and skills following the training activity. Results: The activity proceeded smoothly and successfully, achieving 100% participant participation. Participant knowledge improved significantly, with the average score rising from 58.4 points in the pre-test to 87.6 points in the post-test (an increase of 29.2 points). All 30 health volunteers (100%) successfully performed the screening simulation with a "good" rating, achieving an average score of 90% across all assessed aspects. Conclusion: The orientation activity regarding brain health screening for the elderly was conducted successfully and yielded positive results. Evaluation findings indicate an increase in participants' knowledge regarding elderly health concepts and screening techniques. The improvement in the volunteers' knowledge and capabilities will significantly contribute to the sustainability of elderly health programs, the early detection of brain function disorders (such as dementia or stroke), and the quality of healthcare services at the community level. Suggestion: Orientation activities on brain health screening for the elderly, aimed at *Posyandu* (Integrated Health Post) volunteers in Bagelen Village, should be conducted on an ongoing basis to ensure that screening knowledge and skills are maintained and enhanced. Village authorities and the Community Health Center are expected to support these orientation activities by providing screening information materials such as flipcharts, posters, or screening guidelines at every elderly Integrated Health Post. Furthermore, future orientation activities could incorporate more varied and participatory methods and be followed by field-based mentoring to further improve the volunteers' screening skills during actual practice at the elderly Integrated Health Post. Keywords: Cognitive screening; Early detection; Elderly; Integrated health post volunteers; Orientation Pendahuluan: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami penurunan fungsi kognitif, gangguan gizi, dan penurunan aktivitas fisik yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup. Desa Bagelen, Kabupaten Pesawaran, memiliki jumlah lansia yang cukup besar, namun kader Posyandu lansia belum pernah mendapatkan orientasi skrining fungsi kognitif sehingga deteksi dini penurunan fungsi otak pada lansia belum optimal. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam skrining fungsi kognitif, penilaian status gizi, serta pemantauan aktivitas fisik lansia sebagai upaya deteksi dini penurunan fungsi otak pada lansia. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada 23 Juli 2026 di Balai Desa Bagelen Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Sasaran kegiatan adalah 30 kader Posyandu lansia aktif yang berasal dari 6 Posyandu di Desa Bagelen. Pengukuran tingkat pengetahuan dan kemampuan partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Untuk tingkat kemampuan responden di evaluasi berdasarkan pengamatan dari simulasi ketika melakukan praktik observasi skrining. Data hasil evaluasi kemudian dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan dan keterampilan partisipan setelah mengikuti kegiatan pelatihan. Hasil: Pelaksanaan kegiatan berjalan dengan baik dan lancar serta menunjukkan tingkat partisipasi peserta mencapai 100%. Pengetahuan peserta meningkat secara signifikan dari rata-rata nilai 58.4 poin pada pretest menjadi 87.6 poin pada posttest (peningkatan 29.2 poin). Seluruh 30 kader (100%) berhasil melakukan simulasi skrining dengan kriteria baik, dengan rata-rata capaian 90% pada seluruh aspek yang dinilai. Simpulan: Kegiatan orientasi skrining kesehatan otak lansia yang dilaksanakan berjalan dengan baik dan menunjukkan hasil yang positif. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai konsep kesehatan lansia dan teknik skrining. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan pada kader akan berkontribusi besar terhadap keberlanjutan program kesehatan lansia, deteksi dini gangguan fungsi otak (seperti demensia atau stroke), dan mutu pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Saran: Kegiatan orientasi skrining kesehatan otak lansia bagi kader Posyandu di Desa Bagelen perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pengetahuan dan keterampilan skrining dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Pihak desa dan Puskesmas diharapkan dapat mendukung kegiatan orientasi dengan menyediakan media informasi skrining, seperti lembar balik, poster, atau panduan skrining di setiap Posyandu lansia. Selain itu, kegiatan orientasi selanjutnya dapat dikembangkan dengan metode yang lebih variatif dan partisipatif, serta dilanjutkan dengan pendampingan lapangan agar mampu meningkatkan keterampilan skrining kader dalam praktik nyata di Posyandu lansia.
Copyrights © 2026