Studi ini mengkaji dampak kebakaran hutan dan lahan di Kota Palangka Raya, ibu kota Kalimantan Tengah, selama periode bulan Juli hingga Oktober pada tahun 2022 dan 2023. Meskipun Kota Palangka Raya merupakan wilayah yang kaya akan hutan, kota ini sering mengalami kebakaran yang meningkatkan jumlah titik panas dan menurunkan kualitas udara, yang ditandai dengan tingginya konsentrasi PM 2.5. Dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), studi ini menunjukkan adanya peningkatan pada jumlah titik panas yang sangat besar pada tahun 2023, di mana Kecamatan Sabangau menjadi wilayah yang paling terdampak. Kualitas udara, yang diukur berdasarkan Indeks Kualitas Udara (AQI), juga mengalami penurunan drastis pada tahun 2023, dengan banyaknya hari yang dikategorikan sebagai tidak sehat. Curah hujan menunjukkan korelasi negatif dengan konsentrasi PM 2.5 dengan kekuatan hubungan rendah hingga sedang. Hal ini disebabkan oleh efek higroskopis, luasnya lahan gambut, serta pembakaran di bawah permukaan tanah yang menghasilkan asap pekat saat terkena air, sehingga konsentrasi PM 2.5 justru meningkat.
Copyrights © 2026