Non-cognitive diagnostic assessment plays a crucial role in mapping students' psychological readiness and learning environment during the early literacy stage. A holistic understanding of these affective factors provides the foundation for teachers to design differentiated and adaptive reading instruction. This study aims to determine the results of a non-cognitive diagnostic assessment of the reading ability of second-grade students at SD Negeri 230 Palembang. This study employed a qualitative descriptive method involving 25 students as research subjects. Data collection techniques were conducted through structured observation, in-depth interviews, questionnaires, and documentation. Data were analyzed inductively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that students' reading abilities varied across fluent, moderately fluent, and struggling categories. Students' reading proficiency is significantly influenced by non-cognitive factors, including reading interest, learning motivation, self-confidence, emotional stability, parental support, and preschool educational background. Based on the questionnaire analysis, the overall non-cognitive condition of the students achieved an average percentage of 61.33%, categorized as moderate to high. Thus, conducting non-cognitive diagnostic assessments is essential for detecting students' internal and external strengths and barriers to guide pedagogical interventions in elementary school reading instruction. ABSTRAK Asesmen diagnostik non-kognitif memegang peranan krusial dalam memetakan kesiapan psikologis dan lingkungan belajar siswa pada fase literasi awal membaca permulaan. Pemahaman holistik terhadap faktor afektif ini menjadi dasar utama bagi guru dalam merancang pembelajaran membaca yang terdiferensiasi dan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil asesmen diagnostik non-kognitif terhadap kemampuan membaca siswa kelas II SD Negeri 230 Palembang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak 25 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terstruktur, wawancara mendalam, angket kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa masih bervariasi antara kategori lancar, cukup lancar, dan terbata-bata. Kemampuan membaca siswa sangat dipengaruhi oleh faktor non-kognitif, meliputi minat membaca, motivasi belajar, kepercayaan diri, kematangan emosional, dukungan orang tua, serta latar belakang pendidikan prasekolah. Berdasarkan analisis angket, kondisi non-kognitif siswa secara keseluruhan memperoleh persentase rata-rata sebesar 61,33% (kategori cukup/tinggi). Dengan demikian, pelaksanaan asesmen diagnostik non-kognitif sangat esensial untuk mendeteksi potensi dan hambatan internal-eksternal siswa sebagai landasan intervensi pembelajaran membaca di sekolah dasar.
Copyrights © 2026