Abtract: The increasing prevalence of gender-based violence in digital spaces indicates that women remain the group most vulnerable to becoming victims. Ironically, victims who should receive protection are instead frequently subjected to social stigma, victimblaming practices, and unfair positioning as though they bear responsibility for the perpetrator’s actions. This phenomenon underscores the persistence of a strong victimblaming culture and the weakness of justice-oriented and victim-centered perspectives in the handling of online gender-based violence (OGBV). This study employs a qualitative research design using a library research approach. The primary data source is the book Qirā’ah Mubādalah by Faqihuddin Abdul Kodir, while data collection is conducted through documentation methods. Data are analyzed using a descriptiveanalytical method by examining Q.S. Ali ‘Imran verse 14 through the mubādalah perspective. The findings indicate that, in the context of OGBV, women who become victims cannot be positioned as sources of temptation or as causes of violence due to their perceived charm or attractiveness. The mubādalah perspective affirms that both women and men equally possess the potential to be sources of attraction to one another. Therefore, restricting women’s mobility under the pretext of preventing violence cannot be justified, especially when men are allowed freedom without corresponding moral responsibility. Justice is instead realized through mutual restraint, vigilance, and shared responsibility to prevent violence against anyone and by anyone. Abstrak: Maraknya kekerasan berbasis gender di ruang digital menunjukkan bahwa perempuan masih menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban. Ironisnya, korban yang seharusnya memperoleh perlindungan justru kerap menghadapi stigma sosial, mengalami praktik menyalahkan korban, serta diposisikan secara tidak adil seolah memiliki tanggung jawab atas tindakan pelaku. Fenomena ini menegaskan kuatnya budaya victim blaming dan masih lemahnya perspektif keadilan serta perlindungan korban dalam penanganan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Sumber data primer yang digunakan adalah buku Qirā’ah Mubādalah karya Faqihuddin Abdul Kodir, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui metode dokumentasi. Analisis data menggunakan metode deskriptif-analitis dengan menelaah QS. Ali ‘Imran ayat 14 melalui perspektif mubādalah. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam konteks KBGO, perempuan yang menjadi korban tidak dapat diposisikan sebagai sumber fitnah atau penyebab terjadinya kekerasan karena pesona atau daya tarik yang dimilikinya. Perspektif mubādalah menegaskan bahwa baik perempuan maupun laki-laki sama-sama memiliki potensi fitnah yang dapat saling memikat. Oleh karena itu, pembatasan ruang gerak perempuan dengan dalih pencegahan kekerasan tidak dapat dibenarkan, sementara laki-laki dibiarkan bebas tanpa tanggung jawab moral. Keadilan justru terwujud melalui prinsip saling menjaga, saling waspada, dan saling bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap siapa pun dan dari siapa pun.
Copyrights © 2025