cover
Contact Name
Khairizzaman
Contact Email
khairizzaman@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282214545730
Journal Mail Official
quranicun@gmail.com
Editorial Address
Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir (IAT) Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Jalan Ar-Raniry No. 1 Kopelma Darussalam Banda Aceh
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : -     EISSN : 30480361     DOI : https://doi.org/10.22373/quranicum
Core Subject :
QURANICUM: Journal of Qur’anic and Hadith Studies is a peer-reviewed, biannual journal (June and December) published by the Master’s Program in Qur’anic and Tafsir Studies, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia. The journal publishes original research articles and critical reviews that advance the study of the Qur’an and Hadith across disciplines. Coverage includes linguistic, literary, and thematic analyses; tafsir and hadith commentaries and their exegetical traditions; methodological approaches; Qur’anic and Hadith sciences (ʿulum al-Qur’an and ʿulum al-hadith); reception and lived-religion studies (Living Qur’an and Living Hadith); translation studies of the Qur’an; and comparative or regional inquiries spanning the Middle East, the West, the Indonesian Archipelago, and beyond. Submissions grounded in law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, and related fields are particularly welcome.
Arjuna Subject : -
Articles 31 Documents
Persepsi Masyarakat Lueng Bata terhadap Kisah Para Nabi dalam Tafsir Al-Ma’thur Zakiatun Fajri
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v1i1.4407

Abstract

The stories of the Prophets that developed within the Lueng Bata Subdistrict community are understood without relying on reliable sources, and sometimes are involved with mythical and superstitious tales. If this situation continues, there is a concern that it may affect the purity of the Islamic teachings conveyed by the Prophet Muhammad and his successors. After interpretating al-Ma’thur's Tafsir, it showed that some of the stories of the Prophets described by the community were not explained in al-Ma’thur's Tafsir, while others found the same stories in it, either explicitly (identical) or with slight differences. Abstrak: Kisah para Nabi yang berkembang dalam masyarakat Kecamatan Lueng Bata sebagiannya tidak dipahami berdasarkan sumber-sumber yang muktabar, bahkan di dalamnya diselipi cerita mitos dan tahayul. Jika keadaan tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan mempengaruhi kemurnian ajaran Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw. dan para penerus dakwahnya. Adapun berdasarkan hasil telaah kitab tafsir, ditemukan bahwa sebagian kisah para Nabi yang dideskripsikan oleh masyarakat tidak termuat penjelasannya dalam kitab tafsir al-Ma’thur, sedangkan sebagian lainnya ditemukan kisah yang sama di dalamnya, baik hal tersebut diungkapkan secara eksplisit (sama persis), ataupun memiliki sisi persamaan walau tampaknya agak berbeda.
Lafaz Kebahagiaan dalam Tafsir Al-Azhar Anggy Savira
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v1i1.4408

Abstract

One of the hopes and goals that humans want to achieve is happiness. This can be seen from the fact that humans try their best to achieve happiness in their lives. In the Qur'an happiness is expressed through various sentences and statements that express joy, pleasure, victory which is the foundation of human hope in life. The word that means happiness in the Qur'an is mentioned using several words, such as the word falāḥ, fawzan, fariḥa with various variations of each word. The purpose of the research is to find out the definition of happiness in the Qur'an, the lafaẓ expression of happiness in the Qur'an using Tafsir al-Azhar. The form of this research is library research using the Maudhu'i method. The data source in this study uses primary data, namely the book of Tafsir al-Azhar. The results showed that the meaning of happiness in Arabic is called sa'adah, which is taken from the root word sa'ada which means good and happy, found in QS. Hud: 105 and 108. Then lafaẓ which means happiness are: sa'adah, falāḥ, fawzan and fariḥa. HAMKA's interpretation in the book Tafsir al-Azhar is related to the lafaz of happiness in the verse: QS. Hud/11: 108, QS. Hajj/22: 77, QS. Al-Mu'minūn/23: 1, QS. al-A'la/87: 14, QS. Al-Shams/91: 9, QS. Al-Imran/3: 130 and 200, QS. Al-Tawbah/9: 88, QS. Al-Maidah/5: 35 dan 90, QS. Yunus/10: 64 dan QS. Hud/11: 10. Abstrak: Salah satu harapan dan tujuan yang ingin dicapai manusia adalah kebahagiaan. Hal ini terlihat dari kenyataan yang menunjukkan bahwa manusia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam al-Qur’an kebahagiaan diungkapkan melalui berbagai kalimat dan pernyataan yang mengungkapkan kegembiraan, kesenangan, kemenangan yang merupakan tumpuan harapan manusia dalam kehidupannya. Di dalam al-Qur’an kebahagiaan disebutkan dengan menggunakan beberapa kata yang bervariasi seperti kata falāḥ, fawzan, dan fariḥa. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui definisi kebahagiaan dalam al-Qur’an, ungkapan lafaẓ kebahagiaan dalam al-Qur’an dengan menggunakan Tafsir al-Azhar. Bentuk Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan metode Maudhu’i. Sumber data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu kitab Tafsir al-Azhar. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa makna kebahagiaan dalam bahasa Arab disebut sa‘adah, yang diambil dari akar kata sa‘ada yang artinya adalah kebaikan dan bahagia, terdapat dalam QS. Hud: 105 dan 108. Kemudian lafaẓ yang semakna dengan kebahagiaan adalah: sa’adah, falāḥ, fawzan dan fariḥa. Penafsiran HAMKA dalam kitab Tafsir al-Azhar terkait dengan lafaz kebahagiaan pada ayat: QS. Hud/11: 108, QS. Hajj/22: 77, QS. Al-Mu’minūn/23: 1, QS. al-A’la/87: 14, QS. Al-Syams/91: 9, QS. Ali-Imran/3: 130 dan 200, QS. Al-Tawbah/9: 88, QS. Al-Maidah/5: 35 dan 90, QS. Yunus/10: 64 dan QS. Hud/11: 10.
Pemahaman Ayat-ayat Dakwah Perspektif Jamaah Tabligh di Masjid Jamik Bukit Baro Montasik Urwatul Wusqa
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v1i1.4409

Abstract

Jamaah Tabligh is a missionary group that employs specific methods of proselytization, namely Khurūj fī Sabīlillāh (going out in the path of Allah) and Jaulah (building connections by visiting homes). These methods are not commonly found in general missionary activities, raising questions about Jamaah Tabligh’s understanding of the verses related to proselytization and their impact on society. In order to address these questions, this research focuses on field studies. Based on the conducted research, it has been found that in Surah Āli ‘Imrān verse 110, they interpret “ukhrijat” as going out in the path of Allah, referring to the Khurūj fī Sabīlillāh method of proselytization. Furthermore, in the context of enjoining good and forbidding evil, they understand that forbidding evil is a result of enjoining good. Additionally, in Surah al-Ḥajj verse 78, they equate jihad with Khurūj fī Sabīlillāh, drawing parallels between the sacrifice involved in both, such as the use of personal wealth and temporarily leaving family and employment. In conclusion, there is a difference in understanding between Jamaah Tabligh and the interpretations put forth by traditional commentators. Jamaah Tabligh merupakan suatu kelompok dakwah yang memiliki metode-metode dakwah khusus, yaitu Khurūj fī Sabīlillāh (keluar di jalan Allah) dan Jaulah (silaturahmi dengan mendatangi rumah-rumah). Metode ini tidak ditemukan dalam dakwah-dakwah yang dilakukan secara umum. Sehingga memunculkan persoalan bagaimana pemahaman Jamaah Tabligh tentang ayat-ayat dakwah serta dampaknya bagi masyarakat. Untuk menjawab persoalan tersebut, maka penelitian ini difokuskan pada kajian lapangan (field research). Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, ditemukan bahwa: Pada Surah Āli ‘Imrān ayat 110, mereka mengartikan “ukhrijat” sebagai keluar di jalan Allah, yaitu metode dakwah Khurūj fī Sabīlillāh. Kemudian pada anjuran amal makruf nahi mungkar, mereka memahami bahwa nahi mungkar merupakan hasil dari amal makruf. Selanjutnya pada Surah al-Ḥajj ayat 78, mereka menyamakan jihad dengan Khurūj fī Sabīlillāh, karena adanya kesamaan pengorbanan dengan jihad, seperti menggunakan harta pribadi serta meninggalkan keluarga dan pekerjaan dalam kurun waktu tertentu. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman antara Jamaah Tabligh dengan apa yang telah dicetuskan oleh para mufasir.
Tahfidz Al-Qur’an pada Madrasah Tsanawiyah Ulumul Qur’an Pagar Air Banda Aceh Fakhrina Fakhrina
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v1i1.4422

Abstract

This research aims to describe the management of the tahfidz program, find methods for implementing the tahfidz program and the ability to memorize the al-Qur'an at the Madrasah Tsanawiyah ‘Ulumul Qur’an Pagar Air Banda Aceh. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques, namely observation, interviews and documentation. The subjects in this research were Dayah Leaders, Heads of Tahsin and Tahfidz, teacher, and student. Data analysis starts from data collection, data reduction, presentation and drawing conclusions. The research results show that: Firts Management of the tahfidz program through planning by analyzing program needs, setting goals, responsible person, time, place and costs. In its implementation, tahfidz is divided into two classes, namely intensive and regular. Meanwhile, evaluations are scheduled regularly every month for assessment and further actions. The management of the program is able to improve tahfidz management, activate the role of supervising teachers, strengthen supervision of students and strengthen the role of parents. Second The tahfidz method used is prioritized over the talaqqi method. Apart from also using the memorization and tasmi' test methods. Third The strategy for increasing memorization of the Qur'an is carried out through activating the role of supervising teachers by holding various trainings, strengthening supervision of students in memorizing murajaah and also increasing interesting programs for memorizing the Qur'an by involving donors and also submitting proposals to financially support the program. Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan program tahfidz, menemukan metode pelaksanaan program tahfidz dan mengetahui hafalan al-Qur’an pada Madrasah Tsanawiyah ‘Ulumul Qur’an Pagar Air Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama Pengelolaan program tahfidz melalui perencanaan dengan menganalisis kebutuhan program, penetapan tujuan, penanggungjawab, waktu, tempat, dan biaya. Dalam pelaksanaannya, tahfidz dibagi dua kelas yaitu intensif dan reguler. Sementara evaluasi dijadwalkan setiap bulan secara teratur untuk penilaian dan tindakan-tindakan selanjutnya. Pengelolaan programnya, mampu memperbaiki manajemen tahfidz, mengaktifkan peran guru pembimbing, memperkuat pengawasan santri dan penguatan peran orang tua. Kedua Metode tahfidz yang digunakan diprioritaskan pada metode talaqqi. Disamping juga digunakan metode tes hafalan dan tasmi’. Ketiga Strategi dalam meningkatkan hafalan al-Qur’an dilakukan melalui pengaktifan peran guru pembimbing dengan diadakan berbagai pelatihan, memperkuat pengawasan santri dalam murajaah hafalan dan juga dilakukan peningkatan program yang menarik dalam menghafal al-Qur’an dengan melibatkan donatur dan juga pengajuan proposal pada pihak terkait untuk mendukung finansial program tersebut. Keempat, Dengan berhasilnya strategi pembelajaran yang telah dilakukan madrasah, terdapat perubahan karakter yang signifikan, diantaranya karakter religius, jujur, disiplin, mandiri tanggung jawab, bersih, istiqomah, sabar, dan sopan santun.
Pernikahan Beda Agama Menurut Ibnu ‘Ajibah: Analisis Tafsir Al- Bahr al-Madid Fi Tafsir al-Quran al-Majid Hasvi Harizi; Agusni Yahya
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v1i1.4665

Abstract

This article is motivated by the observation that a shared faith does not guarantee a harmonious marriage. Couples of the same faith are not always harmonious, and sometimes interfaith couples are more harmonious. However, this does not mean that interfaith marriage is better or legally permissible. The discussion about interfaith marriage remains a debate, particularly concerning the term "musyrikat." The term "musyrikah" is often restricted to women of the People of the Book, while "musyrikin" is not restricted. This paper uses the framework of Tafsir Al-Bahr al-Madid by Ibn 'Ajibah to analyze his views on interfaith marriage. This study is qualitative, utilizing library research methods. The findings indicate that in interpreting Surah al-Baqarah verse 221, Ibn 'Ajibah divides his interpretation into two aspects: zahir (literal) and bathin (esoteric). From the zahir aspect, musyrikat women are non-Muslim women who are not from the People of the Book, thus marriage between a Muslim man and a musyrikat woman is prohibited, and vice versa. From the esoteric aspect, Ibn 'Ajibah interprets musyrikat as desires containing minor shirk (syirkul asghar). This shirk refers to acknowledging a power other than Allah or excessive admiration and obedience to Allah's creations. The term musyrikat is also understood as a Muslim woman who has not yet achieved perfect faith. Ibn 'Ajibah prohibits forming close relationships and love while someone still harbors minor shirk. However, if the man's faith is perfect, he is allowed to marry a woman with minor shirk. Abstract: Kajian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa satu keyakinan tidak menjamin keharmonisan perkawinan. Pasangan seiman tidak selalu harmonis, dan kadang pasangan beda agama lebih harmonis. Namun, ini bukan berarti pernikahan beda keyakinan lebih baik atau dibolehkan secara hukum. Pembahasan tentang nikah beda agama masih menjadi perdebatan, terutama dari lafadz musyrikat. Kata musyrikah sering dibatasi pada perempuan ahli kitab, sementara kata musyrikin tidak dibatasi. Tulisan ini menggunakan Tafsir Al-Bahr al-Madid karya Ibnu ‘Ajibah untuk menganalisis pandangannya tentang pernikahan beda agama. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menafsirkan surah al-Baqarah ayat 221, Ibn 'Ajibah membaginya menjadi dua aspek: zahir (Nadhari) dan bathin (Ishari). Dari aspek zahir, wanita musyrikat adalah wanita non-Islam dan bukan ahli kitab, sehingga pernikahan antara pria muslim dan wanita musyrikat haram, begitu juga sebaliknya. Dari aspek isyari, Ibnu ‘Ajibah mengartikan musyrikat sebagai hawa nafsu yang mengandung syirkul asghar (syirik kecil). Syirik ini adalah pengakuan adanya kekuasaan selain Allah atau ketaatan kepada makhluk Allah yang berlebihan. Lafadz musyrikat juga dipahami sebagai wanita muslim yang belum beriman sempurna. Ibnu ‘Ajibah melarang akad suhbah dan percintaan selama seseorang masih mengandung syirik khafi. Namun, jika iman lelaki sudah sempurna, dibolehkan menikah dengan wanita yang masih syirik khafi.
Peran Aplikasi Digital dalam Memahami Makna Al-Quran di Era Kontemporer Moh. Akib Moh
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.4902

Abstract

Abtract: The advancement of digital technology presents both challenges and opportunities in understanding and applying the teachings of the Qur'an amidst modern social and cultural changes. This study aims to examine the relevance of the Qur'an in the daily lives of Muslims in the digital era by highlighting the role of technology in facilitating a deeper understanding of the holy book. The research employs a qualitative approach with descriptive-analytical analysis of various phenomena related to the use of digital technology, including Qur'anic applications, online learning platforms, and other digital tools. The findings indicate that technology has accelerated access to and dissemination of Qur'anic knowledge, particularly during the COVID-19 pandemic, which increased the usage of mobile applications and online platforms for religious practices. This research contributes by providing insights into how technology integration can enhance the understanding and implementation of Qur'anic values more broadly and contextually in contemporary times.   Keywords: Digital Technology, COVID-19 Pandemic, Qur'anic Applications, Digital Era.   Abstrak: Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru dalam memahami dan mengaplikasikan ajaran Al-Qur'an di tengah perubahan sosial dan budaya modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim di era digital dengan menyoroti peran teknologi dalam memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam terhadap kitab suci ini. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif-analitis terhadap berbagai fenomena penggunaan teknologi digital, seperti aplikasi Al-Qur'an, platform pembelajaran daring, dan alat bantu digital lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi telah mempercepat akses dan penyebaran ilmu Al-Qur'an, terutama selama pandemi COVID-19 yang meningkatkan penggunaan aplikasi mobile dan platform daring untuk praktik keagamaan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menawarkan perspektif tentang bagaimana integrasi teknologi dapat mendukung pemahaman dan implementasi nilai-nilai Al-Qur'an secara lebih luas dan kontekstual di masa kini.   Kata Kunci: Teknologi Digital, Pandemi COVID-19, Aplikasi Al-Qur'an, Era Digital.
Interpretasi Esoteris Puasa dalam Surah Al-Baqarah Ayat 183 Studi Kitab Tafsir Al-Qusyairi Al-Musamma Lata’if Al-Isyarat Fahmi Idrus Fahmi
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v1i2.5055

Abstract

This research aims to overcome problems related to the esoteric understanding of fasting and the meaning of fasting verses in the Koran, as well as the contradiction between fasting and committing disgraceful acts. The focus of this research is Tafsir Al-Qushairi Lataif al-Isyarat, using analytical descriptive methods. In the context of society, there is a lack of understanding in understanding the esoteric nature of fasting, where fasting is often interpreted only as a physical obligation without paying attention to the inner dimension. There is also the phenomenon of someone who fasts but still commits disgraceful acts, such as backbiting and being tempted by lust. Through the Ulumul Qur’an approach and Sufism, Al-Qushairi provides an esoteric interpretation of fasting in Surah Al-Baqarah Verse 183. This research reveals that fasting, according to Al-Qushairi, has an inner and outer meaning. The meaning of birth includes enduring hunger, thirst and lust from sunrise to sunset, according to general understanding. However, its inner meaning is deeper, containing Sufi fasting practices of a spiritual nature. The results of this research contribute to the esoteric understanding of fasting in the context of Tafsir Al-Qushairi, with the implication of helping to deepen people's understanding of the true purpose of fasting and moving away from understandings that simply eliminate physical obligations. Thus, this research provides a holistic view regarding the practice and meaning of fasting, not only limited to its outer aspects but also its inner dimensions in accordance with Al-Qushairi's views. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi problematika terkait pemahaman esoteris puasa dan makna ayat-ayat puasa dalam Al-Qur'an, serta pertentangan antara berpuasa dengan melakukan perbuatan tercela. Fokus penelitian ini adalah Tafsir al-Qushairi Lataif al-Isyarat, dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Dalam konteks masyarakat, terdapat ketidakpahaman dalam memahami esoteris puasa, di mana puasa sering diartikan hanya sebagai kewajiban fisik tanpa memperhatikan dimensi batin. Terdapat pula fenomena seseorang yang berpuasa namun tetap melakukan perbuatan tercela, seperti menggibah dan tergoda oleh hawa nafsu. Melalui pendekatan Ulumul Qur’an dan ilmu tasawuf, al-Qushairi memberikan interpretasi esoteris puasa dalam Surah Al-Baqarah Ayat 183. Penelitian ini mengungkapkan bahwa puasa, menurut al-Qushairi, memiliki makna lahir dan batin. Makna lahir mencakup menahan lapar, haus, dan hawa nafsu dari terbit hingga terbenamnya matahari, sesuai dengan pemahaman umum. Namun, makna batinnya lebih dalam, mengandung praktik-praktik puasa sufistik yang bersifat spiritual. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman esoteris puasa dalam konteks Tafsir al-Qushairi, dengan implikasi membantu memperdalam pengertian masyarakat terhadap tujuan sebenarnya dari ibadah puasa dan menjauhkan pemahaman yang sekadar menggugurkan kewajiban fisik. Dengan demikian, penelitian ini memberikan pandangan holistik terkait praktik dan pemaknaan puasa, tidak hanya sebatas aspek lahiriahnya tetapi juga dimensi batiniahnya sesuai dengan pandangan al-Qushairi.
Pemaknaan Yatama dalam Al-Qur’an: Kajian Tematik atas Tafsir Al-Ibriz Karya Bisri Mustofa Putri Ulandari; Kiki Muhamad Hakiki; Abuzar Al-Ghifari
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i2.5157

Abstract

This study examines K.H. Bisri Mustofa’s interpretation of Qur’anic verses concerning orphans (yatāmā) in Tafsīr Al-Ibrīz fī Ma‘rifat Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz, a local Javanese exegesis written in the Arabic Pegon script. The study employs qualitative library research and a thematic (mawḍū‘ī) approach. The analysis identifies and classifies verses related to orphans, examines Bisri Mustofa’s interpretations, and analyzes the linguistic registers used in Al-Ibrīz. The findings show that Bisri Mustofa defines an orphan as a child whose father dies before the child reaches puberty. The termination of orphan status is also associated with the capacity to manage one’s affairs. His interpretation emphasizes protection, moral education, proper management of orphans’ property, and the prohibition of exploitative or violent treatment. The study also finds that the use of Javanese speech levels—Krama Inggil, Krama, Madya, and Ngoko—functions rhetorically according to the interlocutors and the moral force of the verse. This linguistic strategy makes Qur’anic messages on orphan care more accessible to Javanese readers and demonstrates the sociocultural character of local Qur’anic interpretation. Abstrak: Penelitian ini mengkaji penafsiran K.H. Bisri Mustofa terhadap ayat-ayat Al-Qur’an tentang yatāmā dalam Tafsīr Al-Ibrīz fī Ma‘rifat Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz, sebuah tafsir lokal berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Arab Pegon. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dan metode tafsir tematik (mawḍū‘ī). Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengelompokkan ayat-ayat tentang yatim, menelaah penafsiran Bisri Mustofa, serta menganalisis tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan dalam Al-Ibrīz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bisri Mustofa mendefinisikan yatim sebagai anak yang kehilangan ayah sebelum mencapai usia balig dan memiliki kecakapan mengelola urusannya. Penafsirannya menekankan perlindungan diri, pembinaan moral, pemeliharaan harta, serta larangan melakukan tindakan eksploitatif dan sewenang-wenang terhadap anak yatim. Penelitian ini juga menemukan bahwa penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa—Krama Inggil, Krama, Madya, dan Ngoko disesuaikan dengan pihak yang berdialog dan kekuatan pesan moral ayat. Strategi kebahasaan tersebut memudahkan pembaca Jawa memahami pesan Al-Qur’an tentang pemeliharaan anak yatim sekaligus menegaskan karakter sosiokultural tafsir lokal.
Strategi Pengelolaan Emosi dalam Perspektif Al-Qur’an Zatil Iesmah Binti Mohamad Yusof; Abdul Wahid; Nuraini Nuraini
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.5800

Abstract

Abtract: Islam is a religion that contains high spiritual values that are proven to be able to solve human psychological problems through the therapy of the Qur’an. Islamic psychotherapy is divided into two categories. First, it is mundane in the form of psychological treatment approaches and techniques through the results of human efforts in the form of certain therapeutic techniques. Second, is ukhrawi, in the form of guidance on moral, spiritual and religious values. In the Qur'an, the expression of potential, function and human emotional management is directly related to human behavior. The writing of this thesis uses the type of library research by finding the term verses about emotions and then analyzed by the Qur'anic verses by using the books of interpretations to explain the verses and assisted by writing writing related to the discussion. When one feels negative emotions such as sadness can be managed by training themselves patient, forgiving and dhikrullah as exemplified by the prophets who have been told through the Qur'anic verses. Abstrak: Islam adalah agama yang mengandung nilai-nilai spiritual tinggi dan menawarkan solusi terhadap permasalahan psikologis manusia melalui terapi Al-Qur’an. Psikoterapi Islam terbagi menjadi dua kategori. Pertama, psikoterapi duniawi yang menggunakan pendekatan dan teknik psikologis hasil daya upaya manusia. Kedua, psikoterapi ukhrawi yang berbasis pada nilai moral, spiritual, dan agama. Dalam Al-Qur’an, konsep potensi, fungsi, dan manajemen emosi manusia dikaitkan langsung dengan perilaku individu. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan mengkaji ayat-ayat tentang emosi dalam Al-Qur’an dan menganalisisnya menggunakan kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer. Kajian ini juga didukung oleh literatur psikologi Islam yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emosi negatif, seperti kesedihan, dapat dikelola melalui kesabaran, pemaafan, dan dhikrullah, sebagaimana dicontohkan dalam kisah para Nabi dalam Al-Qur’an.
Studi Komparatif Metodologi Penafsiran dalam Tafsir Marāḥ al-Labīddan Tafsir Jalālayn Muhammad Ahmad Marzuki; Rahma Aliya; Alvin Wahyu Herliana
QURANICUM: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Prodi Magister Ilmu Al Qur'an dan Tafsir, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/quranicum.v2i1.5994

Abstract

Abtract: This research examines the methodology of interpretation by comparing the book of Tafsir Marāḥ al-Labīd by Sheikh Nawawi al-Bantany with the book of Tafsir Jalālayn by imam Jalaluddin al-mahalli and imam Jalaluddin as-Suyuthi. The method in this study fully uses the library research method, all data is taken from library literacy which consists of primary data and secondary data. This writing aims to find out the similarities and differences in methodology between Tafsir Marāḥ al-Labīdand Tafsir Jalālayn. The way of interpreting Tafsir Marāḥ al-Labīdis called the tahlili method (analysis) with the style of tafsir bil ma'tsur, while Tafsir Jalālayn uses the ijmali method, which is written by directly explaining the word from the perspective of its sharaf, not at length, explaining the meaning of the word or muradif of the word if it has not been known or containing a certain meaning with the pattern of tafsir bi al-Ra'yi. Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang metodologi tafsir dengan membandingkan Tafsir Marāḥ al-Labīd karya Syekh Nawawi al-Bantani dan Tafsir Jalālayn Karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Penelitian ini menggunakan metode library research, dengan mengumpulkan data dari literatur kepustakaan yang terdiri dari data primer dan sekunder. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui persamaan dan perbedaan metodologi antara kedua kitab tafsir tersebut. Tafsir Marāḥ al-Labīd menggunakan metode tahlili dengan corak tafsir bil ma’tsur, yang menekankan pada penafsiran berdasarkan hadis dan riwayat. Sedangkan Tafsir Jalālayn menggunakan metode ijmali, yaitu penjelasan singkat mengenai makna kata atau frasa, dengan corak tafsir bi al-ra’yi, yang lebih mengutamakan penalaran rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan perbedaan prinsipil dalam pendekatan tafsir antara keduanya, serta kontribusinya terhadap pemahaman teks al-Qur’an dalam konteks tradisional.

Page 1 of 4 | Total Record : 31