Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik tawassul sebagai medium pembentukan spiritual santri di Pesantren Nurul Huda Konawe. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan studi tawassul yang masih berfokus pada aspek normatif-teologis dan sosiologis, sehingga belum mampu menjelaskan dimensi pengalaman subjektif dalam pembentukan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis untuk mengungkap makna pengalaman (lived experience) santri dalam menghayati praktik tawassul. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tawassul berfungsi sebagai medium pembentukan spiritual melalui tiga bentuk praktik utama, yaitu pembacaan asmaul husna, istighosah, dan ziarah kubur. Pertama, pembacaan asmaul husna membentuk kesadaran ketuhanan melalui internalisasi pengalaman spiritual yang terintegrasi dalam aktivitas belajar. Kedua, istighosah menghadirkan pengalaman religius kolektif yang memperkuat keterlibatan emosional, rasa kebersamaan, dan intensitas spiritual santri. Ketiga, ziarah kubur berfungsi sebagai pengalaman reflektif yang membentuk kesadaran eksistensial dan mendorong transformasi sikap. Lebih lanjut, pembentukan spiritual santri melalui tawassul mencakup tiga dimensi utama, yaitu dimensi akidah, akhlak, dan sosial-spiritual. Penelitian ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak terbentuk melalui doktrin semata, tetapi melalui pengalaman religius yang dihayati secara berulang dalam kehidupan sehari-hari. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat pendekatan fenomenologis dalam studi pendidikan Islam dengan menempatkan praktik keagamaan sebagai pengalaman yang membentuk kesadaran. Secara praktis, penelitian ini menegaskan bahwa tawassul memiliki relevansi sebagai strategi pedagogis dalam pembentukan spiritual santri di tengah dinamika modernitas.
Copyrights © 2026