Pengolahan udang rebon menjadi terasi secara tradisional merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting bagi masyarakat pesisir Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis proses pembuatan terasi tradisional serta mengevaluasi signifikansi kulturalnya dalam masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan menganalisis artikel-artikel terindeks dari Google Scholar dan Science Direct. Proses pembuatan terasi melibatkan beberapa tahapan kritis seperti persiapan bahan baku, pencucian, penggaraman, penjemuran awal, penumbukan, pemeraman (fermentasi), penjemuran kedua, dan pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi garam memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas produk akhir, dengan kadar garam 15% menghasilkan karakteristik organoleptik terbaik. Fermentasi tradisional yang melibatkan proses back-slopping terbukti efektif dalam menghasilkan terasi dengan cita rasa khas. Produk akhir harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 2716:2016), termasuk persyaratan kadar air maksimal 45% untuk pasta terasi dan kandungan protein minimal 15%. Dengan kesimpulan, preservasi metode pengolahan terasi tradisional tidak hanya penting untuk menjaga warisan kuliner Indonesia, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan sosial-ekonomi masyarakat pesisir melalui praktik produksi berbasis komunitas yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026