Pendidikan dalam Islam dipandang sebagai proses integral yang mencakup pengembangan moral, akhlak, dan spiritualitas serta peningkatan kemampuan kognitif. Al-Qur'an dan Hadis menjadi sumber konsep pendidikan utama, tetapi seringkali maknanya disalahpahami, sehingga pendidikan Islam terjebak pada formalitas dan orientasi pragmatis. Artikel ini bertujuan menganalisis hakikat pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis secara filosofis, serta mengkaji implikasinya terhadap pengembangan sistem pendidikan Islam kontemporer, baik pada tataran tujuan, kurikulum, metode, maupun peran pendidik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Sumber data utama berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tarbiyah, ta’līm, dan tazkiyah, serta hadis-hadis tentang pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa hakikat pendidikan menurut AlQur'an dan Hadis adalah proses terus menerus untuk memperbaiki fitrah manusia dengan menggabungkan aspek iman, ilmu, dan amal. Pendidikan dianggap sebagai proses tazkiyah al-nafs, yang berarti menumbuhkan potensi intelektual dan moral manusia dan membebaskan mereka dari kezaliman dan kebodohan. Secara filosofis, sistem pendidikan Islam harus berorientasi pada tauhid, berdasarkan nilai-nilai wahyu, menempatkan guru sebagai murabbi, menggabungkan ilmu agama dan umum, dan menekankan keteladanan, kebiasaan ibadah, dan pembinaan akhlak. Hakikat pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadis menuntut perancangan sistem pendidikan Islam yang holistik, transformatif, dan berakar pada nilai ilahiah. Reorientasi tujuan, kurikulum, dan praktik pembelajaran menjadi keniscayaan agar pendidikan Islam mampu melahirkan insan beriman, berilmu, dan berakhlak mulia yang relevan dengan tantangan zaman
Copyrights © 2025