Pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera) di Dusun Tejong, Desa Ketangga, Kabupaten Lombok Timur masih terbatas sebagai sayuran rumah tangga, meskipun tanaman ini tersedia cukup melimpah dan memiliki potensi sebagai bahan pangan bernilai tambah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan minat kewirausahaan masyarakat melalui inovasi cookies daun kelor berbasis pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD). Kegiatan melibatkan 38 peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga, pemuda, dan masyarakat umum. Metode pelaksanaan mengacu pada tahapan ABCD, yaitu Discovery, Dream, Design, Define, dan Destiny, yang diimplementasikan melalui identifikasi aset lokal, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan, demonstrasi dan praktik pembuatan cookies, pendampingan analisis Break Even Point (BEP), serta monitoring dan evaluasi. Evaluasi program dilakukan menggunakan instrumen pretest–posttest, observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan capaian peserta pada aspek pengetahuan mengenai potensi daun kelor dari 15% menjadi 70%, keterampilan memproduksi cookies dari 25% menjadi 90%, dan minat berwirausaha dari 30% menjadi 85%. Program juga menghasilkan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan cookies daun kelor, formula produk yang mudah diterapkan menggunakan teknologi tepat guna, hasil uji organoleptik sederhana yang menunjukkan tingkat penerimaan produk yang baik, serta simulasi analisis BEP sebagai dasar pengenalan kelayakan usaha skala rumah tangga. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan ABCD mampu mengoptimalkan potensi lokal sebagai dasar pemberdayaan masyarakat dan menjadi langkah awal dalam pengembangan usaha berbasis pangan lokal yang berkelanjutan. Local Potential-Based Community Empowerment through Moringa Leaf Cookie Innovation in Ketangga Village Abstract The utilization of Moringa (Moringa oleifera) leaves in Tejong Hamlet, Ketangga Village, East Lombok Regency, remains limited to household vegetable consumption, despite the plant's abundant availability and potential as a value-added food product. This community service initiative aimed to enhance the community's knowledge, skills, and entrepreneurial interest through the innovation of Moringa leaf cookies, utilizing the Asset-Based Community Development (ABCD) approach. The activity involved 38 participants, comprising housewives, youths, and general community members. Implementation followed the ABCD stages—Discovery, Dream, Design, Define, and Destiny—encompassing local asset identification, Focus Group Discussions (FGD), training, cookie-making demonstrations and hands-on practice, Break-Even Point (BEP) analysis guidance, and monitoring and evaluation. Program evaluation utilized pre-test and post-test instruments, observations, questionnaires, interviews, and documentation, with data analyzed through both quantitative and qualitative descriptive methods. Evaluation results demonstrated significant improvements in participant outcomes: knowledge regarding Moringa leaf potential rose from 15% to 70%, cookie production skills increased from 25% to 90%, and entrepreneurial interest grew from 30% to 85%. The program also produced Standard Operating Procedures (SOP) for making Moringa leaf cookies, an easily applicable product formula utilizing appropriate technology, simple organoleptic test results indicating high product acceptance, and a BEP analysis simulation to introduce the concept of household-scale business viability. This activity demonstrates that the ABCD approach can effectively optimize local potential for community empowerment and serve as a foundational step toward developing sustainable, local food-based enterprises.
Copyrights © 2026