Masalah-masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: kesatu, menurut data UNESCO dalam Susiani & Abadiah, kualitas pendidikan Indonesia tergolong rendah dengan menempati posisi ke-10 dari 14 negara berkembang yang salah satunya disebabkan oleh mutu pengajaran guru. Kedua, penelitian Turmuzi menuliskan kemampuan guru menyusun perangkat ajar kurikulum merdeka tergolong rendah, yaitu sebesar 16,67% serta keselarasan antara isi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan pelaksanaannya hanya berkisar rata-rata 25,00%. Dalam konteks pendidikan agama Kristen, ditemukan bahwa guru pendidikan agama Kristen mengalami kesulitan membangun iklim pembelajaran yang produktif. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan upaya peningkatan kompetensi profesional Guru Pendidikan Agama Kristen di era Society 5.0. Sementara itu, hasil penelitian ini menyimpulkan urgensi kualitas kompetensi profesionalisme guru pendidikan agama Kristen di era Society 5.0 melalui penerapan supervisi akademik, melaksanakan proses pembelajaran (learning experience and learning activities) di kelas, merencanakan dan mengembangkan alat pembelajaran (instrument tools), membuat bahan refleksi guru, melakukan pelatihan pembelajaran pendidikan agama Kristen yang terintegrasi dengan teknologi secara berkesinambungan, mendapatkan dukungan Kementerian Agama (Ditjen Bimas Kristen), serta melakukan Focus Group Discussion (FGD).
Copyrights © 2024