Tulisan ini menelaah bagaimana transhumanisme dan teknologi digital membentuk ulang pemahaman manusia, serta implikasinya terhadap identitas gereja. Pergeseran antropologis yang digerakkan oleh logika kendali digital menunjukkan bahwa manusia semakin dipahami bukan sebagai ciptaan yang berakar pada relasionalitas, tetapi sebagai proyek teknologis yang dapat dioptimalisasi. Berangkat dari metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan konstruktif, penelitian ini memanfaatkan gagasan technological liturgies sebagai kerangka analitis untuk membaca dinamika pembentukan afeksi dan imajinasi manusia dalam budaya digital. Temuan penelitian mengemukakan tiga orientasi yang menolong gereja merumuskan identitasnya di tengah dunia yang dimediasi algoritma, yakni relasionalitas sebagai dasar kehidupan bersama, ritme kehadiran yang memulihkan makna, dan orientasi kritis terhadap konfigurasi teknologi. Ketiga orientasi ini membentuk suatu liturgi tandingan yang menata ulang disposisi umat dan memelihara martabat manusia sebagai ciptaan. Penelitian ini menegaskan bahwa identitas gereja tetap dapat diartikulasikan secara kreatif dan kontekstual tanpa kehilangan akar teologisnya di tengah perubahan teknokultural.
Copyrights © 2025