Perkembangan media digital telah memperluas ruang komunikasi keagamaan sekaligus meningkatkan kompleksitas penyebaran ujaran kebencian dan polarisasi keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara ujaran kebencian, polarisasi keagamaan, dan tanggung jawab etis gereja di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan melalui analisis teologis dan konseptual terhadap literatur akademik mengenai ujaran kebencian, polarisasi, komunikasi digital, dan respons gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran kebencian tidak sekadar mencerminkan polarisasi, tetapi dapat memperkuat stereotip, dehumanisasi, dan antagonisme antarkelompok dalam ekosistem digital. Penelitian ini mengonstruksi tanggung jawab etis gereja melalui empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu preventif, korektif, restoratif, dan profetik. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan etika komunikasi rekonsiliatif yang mengintegrasikan keempat dimensi tersebut. Gereja dengan demikian dipanggil tidak hanya menolak ujaran kebencian, tetapi juga membangun ruang digital yang menghormati martabat manusia, mengoreksi dehumanisasi, memulihkan relasi, serta menghadirkan kesaksian moral yang konstruktif.
Copyrights © 2026