Penelitian ini menganalisis preferensi subjektif teknik perekaman stereo untuk instrumen tradisional Taganing Batak Toba melalui evaluasi dua kelompok naracoba: ahli (10 orang) dan non-ahli (6 orang). Studi ini bertujuan mengidentifikasi teknik perekaman optimal yang mempertimbangkan aspek teknis, estetika, dan kultural. Rekaman Taganing dibuat menggunakan empat teknik stereo (XY 90°, AB, ORTF, Mid-Side) dengan variasi jarak (1 m dan 1,5 m) dan tinggi mikrofon (2 m). Evaluasi subjektif menggunakan skala kualitas (Sangat Baik hingga Sangat Buruk) dan wawancara mendalam dilakukan untuk mengeksplorasi parameter penilaian. Hasil menunjukkan preferensi signifikan antara kelompok: ahli lebih menyukai teknik XY 90° (1 m dan 1,5 m) karena kejelasan transien, koherensi fase, dan preservasi karakter timbral Taganing yang dijelaskan melalui terminologi Batak seperti nunga marsaringar (resonan) dan gomos (padat). Sebaliknya, non-ahli lebih memilih ORTF (1 m) dan AB/ORTF (1,5 m) karena citra stereo alami dan persepsi kelebaran yang seimbang. Teknik MS dan XY dinilai kurang koheren oleh non-ahli. Temuan ini menegaskan bahwa preferensi perekaman Taganing dipengaruhi oleh latar belakang pendengar. Untuk dokumentasi ilmiah dan arsip budaya, teknik XY direkomendasikan, sedangkan ORTF/AB lebih sesuai untuk distribusi publik. Studi ini berkontribusi pada pengembangan metodologi perekaman yang adaptif terhadap konteks kultural dan teknis, mendukung pelestarian warisan bunyi Indonesia melalui teknologi audio.
Copyrights © 2025