Remaja rentan terhadap polarisasi sosial melalui media sosial, hoaks, ujaran kebencian, ruang gema, dan narasi keagamaan eksklusif. Pengabdian ini bertujuan mengembangkan model dialog keagamaan bagi remaja sebagai strategi pencegahan polarisasi sosial. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif melalui FGD, workshop, simulasi dialog, pelatihan fasilitator, peer mentoring, praktik dialog, serta monitoring-evaluasi. Kegiatan melibatkan remaja sekolah/madrasah, guru, tokoh agama, dan komunitas. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil menunjukkan tersedianya model dan modul dialog keagamaan, meningkatnya toleransi, empati, mendengarkan aktif, serta menurunnya prasangka antarkelompok. Remaja lebih mampu mengelola perbedaan pandangan, menolak hoaks dan ujaran kebencian, serta membangun komunikasi lintas keyakinan yang damai. Implikasinya, model ini dapat diterapkan di sekolah, madrasah, komunitas remaja, dan organisasi kepemudaan untuk memperkuat moderasi beragama dan kohesi sosial.
Copyrights © 2025