Petik laut adalah adat istiadat masyarakat grajagan pantai yang dilakukan setiap tahun pada bulan Muharram/Suro sebagai ungkapan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada prosesinya terdapat perpaduan antar budaya suku jawa, suku osing, agama islam, dan agama hindu. Namun, terdapat perbedaan pada masyarakat dalam memahami dan memaknai tradisi ini. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana masyarakat islam di Grajagan Pantai membentuk konstruksi makna penyelenggaraan petik laut di Grajagan Pantai, dan bagaimana perbedaan pandangan yang didasari nilai-nilai agama yang dianut. Menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus, data dikumpulkan dengan observasi dan wawancara dan dianalisis dengan teori Peter L Berger konstruksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Islam di Grajagan Pantai memiliki berbagai pandangan dalam memahami tradisi petik laut, warga dengan tingkat religiusitas yang tinggi dan tokoh agama islam menganggap bahwa tradisi dan budaya tidak dapat disatukan. Sedangkan mayoritas masyarakat islam lainnya menganggap bahwa petik laut adalah bentuk syukur kepada Tuhan dan bukan tindakan menyekutukan-Nya. Meskipun terdapat perbedaan pandangan petik laut tetap berjalan sesuai pada waktu yang telah ditentukan karena mayoritas masyarakat Grajagan Pantai berpegang teguh pada tradisi nenek moyang, dan adanya kepercayaan jika tidak melaksanakan petik laut setiap tahun akan mendatangkan peristiwa buruk bagi mereka.
Copyrights © 2025