Penelitian ini mengkaji strategi etnomanajemen dan kepemimpinan adat dalam mempertahankan sustainabilitas sosial-budaya masyarakat As Manlea di Kabupaten Belu, NTT, di tengah tekanan modernisasi. Dengan pendekatan mixed-methods yang menggabungkan survei (105 responden) dan etnografi kritis, penelitian ini menganalisis mekanisme adaptif yang dikembangkan lembaga adat. Temuan kunci mengungkap: (1) sistem filter kultural yang canggih menggunakan zonasi sakral dan adaptasi ritual, (2) peran kritis A'aat (pemimpin adat) sebagai perantara budaya yang memfasilitasi transfer pengetahuan antargenerasi, dan (3) model tata kelola hybrid yang sukses mengintegrasikan sistem tradisional dan modern. Studi ini menunjukkan bagaimana adopsi selektif teknologi dan praktik inovatif pelestarian budaya memungkinkan komunitas menghadapi modernisasi sambil mempertahankan integritas kultural. Temuan ini berkontribusi pada wacana pembangunan berkelanjutan dengan menekankan pentingnya tata kelola yang responsif secara kultural dan pengakuan formal sistem pengetahuan adat dalam kerangka kebijakan nasional.
Copyrights © 2026