Hipertensi dan diabetes melitus merupakan dua penyakit kronik yang kerap dijumpai secara bersamaan pada populasi lanjut usia dan berkontribusi pada tingginya angka penyakit serta kematian. Kebersamaan kedua kondisi tersebut menimbulkan kompleksitas penatalaksanaan karena penggunaan banyak obat secara serentak atau disebut polifarmasi, yang pada gilirannya memperbesar peluang terjadinya DRPs. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kejadian DRPs pada pasien lansia yang menderita komorbiditas hipertensi dan diabetes melitus dengan terapi kombinasi antihipertensi dan antidiabetik oral di Instalasi Rawat Jalan RS Islam Sunan Kudus. Metode penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan rancangan potong lintang berdasarkan rekam medis pada tahun 2025 dan melibatkan 160 sampel pasien. Hasil penelitian memperlihatkan dominasi kelompok usia 60–69 tahun (76,9%) dengan proporsi perempuan lebih tinggi yaitu (51,9%). Golongan ARB mendominasi penggunaan antihipertensi sebanyak (33,1%), sedangkan biguanid atau metformin menjadi pilihan utama antidiabetik oral sebanyak (35,0%). Hasil evaluasi DRPs mengidentifikasi potensi interaksi obat pada 30 pasien (18,8%), efek samping obat pada 80 pasien (50,0%), dan dosis yang berada di bawah nilai terapeutik pada 5 pasien (3,1%). Uji statistik bivariat menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin, tidak berkaitan secara bermakna dengan DRPs (p0,05), namun pola penggunaan terapi kombinasi terbukti berhubungan signifikan dengan kemunculan interaksi obat (p=0,002). Kejadian DRPs pada pasien lansia dengan komorbiditas hipertensi dan diabetes melitus terutama dipengaruhi oleh pola terapi kombinasi yang digunakan.
Copyrights © 2025