Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana hedonisme, teori conspicuous consumption Thorstein Veblen, teori identitas sosial, serta konsep konsumsi simbolik Baudrillard bekerja secara simultan dalam membentuk pola konsumsi penggemar K-pop. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan melalui studi literatur sistematis dan observasi fenomenologis terhadap interaksi digital pada Twitter/X, TikTok, dan Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi fans K-pop didorong oleh motivasi afektif berupa pencarian kesenangan, kedekatan parasosial, dan euforia visual yang berasal dari aktivitas seperti unboxing, pengumpulan photocard, hingga partisipasi dalam konser. Namun, konsumsi tersebut berkembang menjadi tindakan demonstratif ketika dipublikasikan secara performatif di media sosial untuk memperoleh pengakuan, validasi, dan prestise. Temuan juga mengindikasikan adanya stratifikasi sosial dalam fandom, di mana objek konsumsi premium menjadi kapital simbolik yang menentukan posisi dan kredibilitas individu dalam komunitas. Dengan demikian, budaya flexing dalam fandom K-pop dapat dipahami sebagai fenomena multidimensi yang menggabungkan aspek psikologis, sosial, ekonomi, dan simbolik, serta memperlihatkan bagaimana identitas generasi muda dibentuk dan dinegosiasi melalui praktik konsumsi digital kontemporer.
Copyrights © 2026