Pada masa Orde Baru, karya kritis kerap dilarang, dan praktik pembatasan kebebasan berekspresi masih terlihat hingga kini, seperti pada pembatalan pameran lukisan Yos Suprapto pada akhir 2024. Lukisan, khususnya, sering digunakan untuk merepresentasikan isu-isu kontroversial seperti politik, namun karena beragamnya latar belakang penikmat, medium ini kerap menghadapi pembatasan dalam kebebasan berekspresi. Salah satu lukisan yang dianggap membawa isu politis adalah lukisan Presiden Juga karya Rohadi Cumik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis lukisan Presiden Juga menggunakan pendekatan sirkuit budaya Stuart Hall dan teknik pengumpulan data berdasarkan metode kualitatif berupa studi literatur, observasi, dan wawancara. Kerangka sirkuit budaya digunakan untuk mengkaji karya secara sistematis melalui lima tahapan analisis yang saling berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lukisan Presiden Juga berfungsi sebagai medium kultural yang menghidupkan kembali pemaknaan sejarah Syafruddin Prawiranegara, sekaligus berperan dalam membentuk kesadaran identitas kebangsaan masyarakat Indonesia. Selain itu, penelitian ini juga menegaskan pentingnya seni sebagai ruang kritik sosial dan sarana refleksi terhadap dinamika sejarah serta politik yang berkembang di masyarakat.
Copyrights © 2026