Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang makna lirik lagu tradisional Aceh Kutidhieng sebagai media penyampaian kearifan lokal di tengah pergeseran fungsi musik tradisional saat ini. Dalam menyampaikan makna tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menerapkan teori semiotika struktural Ferdinand de Saussure, yang berfokus pada komponen penanda (signifier) dan petanda (signified), serta mengumpulkan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Aceh kuno, gaya vokal yang lembut, serta simbol harimau putih yang merepresentasikan kesucian para Aulia merupakan tanda-tanda yang sarat makna. Lirik lagu ini terbukti mencerminkan model komunikasi transendental dan kearifan lokal Aceh, yang mencakup etika menjaga keseimbangan alam, inspirasi semangat juang (jihad), penghormatan kepada Aulia, hingga transformasi ritual kuno menjadi praktik keagamaan berbasis tauhid. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa lagu Kutidhieng bukan sekadar karya seni hiburan, melainkan media komunikasi budaya yang efektif untuk mewariskan nilai moral, kearifan lokal, dan etika ekologis masyarakat Aceh
Copyrights © 2026