Persepsi mahasiswi tingkat akhir terhadap pernikahan mengalami perubahan seiring meningkatnya akses pendidikan, aspirasi karier, dan paparan nilai gender melalui berbagai lingkungan komunikasi. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman komunikasi gender yang membentuk persepsi pernikahan pada mahasiswi tingkat akhir Universitas Bhakti Kencana. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan empat informan berusia 21–25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling hingga mencapai kejenuhan data. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semiterstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui pengumpulan, kondensasi, penyajian, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Temuan menghasilkan lima tema utama, yaitu pengalaman awal memaknai pernikahan, pengalaman komunikasi gender, negosiasi makna, hubungan karier dan kesiapan diri dengan keputusan menikah, serta makna pernikahan. Keluarga, teman sebaya, pasangan, lingkungan pendidikan, dan media sosial menjadi sumber nilai dan pengalaman yang ditafsirkan secara aktif oleh informan. Dalam perspektif Interaksionisme Simbolik, persepsi pernikahan terbentuk melalui proses interaksi, refleksi, dan negosiasi makna, bukan melalui penerimaan norma secara pasif. Penelitian menyimpulkan bahwa pernikahan dimaknai sebagai proses membangun kehidupan bersama yang memerlukan komitmen, komunikasi, tanggung jawab, serta kesiapan psikologis, emosional, ekonomi, pendidikan, dan profesional; sedangkan penundaan pernikahan dipandang sebagai upaya mempersiapkan diri secara matang sebelum menjalani kehidupan keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa makna pernikahan bersifat dinamis dan kontekstual.
Copyrights © 2026