This research aims to identify and analyze the moral education model implemented at Pesantren Tombo Ati, Semarang. The high social stigma faced by ex-convict students (santri) often hinders their social reintegration process. This backdrop necessitates a spiritual approach deeply rooted in Islamic culture. This study employs a descriptive qualitative method, with primary data derived from in-depth interviews with the Kyai (head of the boarding school) and the students. The specific objective is to construct a theoretical and practical framework used by the Kyai to transform deviant mentalities. The primary findings and novelty of this study demonstrate that this model is based on two central philosophies: Obat Mental (mental medicine) and Bagi Roso (sharing of feelings). Obat Mental focuses on shifting the mentality of self-justification for wrongful acts, while Bagi Roso fosters collective empathy and social solidarity. This model effectively mediates the transition from extreme behavioral traits to a state of inner peace (tazkiyah al-nafs) within the context of adult rehabilitation. The scientific implication of this research provides a contribution in the form of a local wisdom-based Islamic spiritual model as an alternative to Religious Psychosocial Healing in addressing rehabilitation and social inclusion issues for marginalized groups such as ex-convicts. [Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis model pendidikan akhlak yang diterapkan di Pesantren Tombo Ati, Semarang. Tingginya stigma sosial yang dihadapi santri eks-narapidana menghambat proses reintegrasi sosial masyarakat. Hal ini merupakan latar belakang yang terjadi sehingga membutuhkan pendekatan spiritual yang berakar kuat pada budaya keislaman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, dengan data primer bersumber dari wawancara mendalam kepada kyai Pesantren Tombo Ati dan santri. Tujuan spesifik dari penelitian ini adalah Menyusun kerangka teoritis dan praktis yang digunakan Kyai untuk mentransformasi mentalitas yang menyimpang. Temuan utama dan novelty menunjukkan bahwa model ini didasari pada dua filosofi sentral, yaitu obat mental dan bagi roso. Obat mental yaitu mengubah mentalitas merasa benar saat berbuat salah, dan bagi roso yaitu menumbuhkan empati kolektif dan solidaritas sosial. Model ini secara efektif memediasi perubahan perilaku ekstrim menjadi sikap yang memiliki ketentraman hati, yang merupakan penegasan keberhasilan dari Taskiyah Al-Nafs, dalam konteks rehabilitasi dewasa. Hasil dari penelitian ini memberikan implikasi ilmiah yaitu berupa kontribusi model kearifal local berbasis spiritual islam sebagai alternatif dari Religious Psychososial Healing dalam penanganan isu rehabilitasi dan iklusi sosial kelompok termarjinalisasi seperti eks-narapidana. ]
Copyrights © 2026