Artikel ini penulis berdasarkan data dan fakta di lapangan bahwa, sebagian besar ibu-ibu jamaah yasinan rutinan di Jorong Hulu Banda, Nagari Malalak Barat, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam menggantungkan penghasilan mereka dari hasil penjualan kayu manis dan pinang. Dimana mereka masih dalam bentuk bahan mentah kepada toke (pengumpul) yang sudah menjadi langganan, tanpa pengolahan lebih lanjut maupun menjualnya secara daring (menggunakan marketplace atau media sosial). Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman awal bagi peserta akan potensi dari pemasaran digital dan branding produk sebagai alternatif strategi peningkatan nilai jual komoditas tersebut. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi pada forum pertemuan rutin yasinan yang diikuti oleh 17 orang ibu-ibu, mencakup penyampaian materi, diskusi dan tanya jawab, serta pengenalan singkat aplikasi canva sebagai ilustrasi alat branding sederhana yang bisa dilakukan secara mandiri. Data kegiatan diperoleh sepenuhnya melalui wawancara langsung dengan peserta, tanpa menggunakan instrumen kuantitatif, dan dianalisis secara deskriptif kualitatif melalui reduksi, penyajian tema, dan penarikan kesimpulan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta belum pernah mendengar konsep pemasaran digital dan branding sebelumnya, serta bergantung penuh pada toke karena keterbatasan akses pasar dan pengetahuan mengenai pengolahan komoditas. Setelah diadakannya sosialisasi, peserta menunjukkan ketertarikan awal terhadap gagasan mengolah dan mengemas produk dilakukan secara mandiri. Kegiatan ini berkontribusi memberikan model edukasi penyadaran awal (awareness raising) bagi kelompok masyarakat prausaha di kawasan nagari terpencil sebagai titik masuk sebelum pelatihan keterampilan digital yang lebih teknis.
Copyrights © 2026