Subjective well-being (SWB) merupakan penilaian kognitif dan afektif individu terhadap kepuasan hidupnya yang berperan penting bagi perkembangan psikologis remaja. Remaja dayah rentan mengalami SWB rendah akibat padatnya aktivitas harian, tekanan akademik, dan keterbatasan waktu istirahat, yang berpotensi memicu perilaku berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik demografi dan tingkat subjective well-being pada remaja dayah di Aceh Besar. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh remaja dayah Darul Ihsan dan Daruzzahidin yang berjumlah 144 orang. Sampel dipilih menggunakan teknik quota sampling terhadap 61 remaja yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memperoleh izin orang tua/wali, tidak sedang sakit, dan memiliki skor SWB rendah (≤39). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner self-report Satisfaction with Life Scale (SWLS) dan Scale of Positive and Negative Experience (SPANE), kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi, mean, dan standar deviasi. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada kelompok remaja awal (78,7%), seluruhnya berjenis kelamin laki-laki (100%), berasal dari desa (68,9%), dengan pendapatan orang tua di bawah UMP Aceh (75,4%), dan memiliki masalah kesehatan dalam tiga bulan terakhir (57,4%). Rerata skor subjective well-being responden adalah 21,2 (SD ±6,95) yang tergolong rendah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan tingginya proporsi remaja dayah dengan SWB rendah sehingga diperlukan program deteksi dini dan intervensi promosi kesehatan mental yang berkelanjutan di lingkungan dayah.
Copyrights © 2026