Kematian neonatal dini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan variasi risiko antarwilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi dan perbedaan risiko kematian neonatal dini berdasarkan regional dan provinsi menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Kematian neonatal dini didefinisikan sebagai kematian bayi dalam enam hari pertama kehidupan. Desain penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Variasi geografis dianalisis pada tingkat regional dan provinsi menggunakan regresi logistik, dengan hasil disajikan sebagai odds ratio (OR), 95% confidence interval (CI), dan nilai p. Pada tingkat regional, tidak ditemukan perbedaan risiko yang bermakna secara statistik dibandingkan Sumatera sebagai referensi: Jawa (OR=0,93; 95% CI: 0,66–1,32), Nusa Tenggara (OR=0,95; 95% CI: 0,59–1,54), Kalimantan (OR=1,12; 95% CI: 0,70–1,79), Sulawesi (OR=0,99; 95% CI: 0,66–1,50), dan Maluku/Papua (OR=1,00; 95% CI: 0,68–1,68). Namun, analisis tingkat provinsi menunjukkan heterogenitas yang lebih jelas. Kalimantan Selatan memiliki risiko secara signifikan lebih tinggi (OR=2,76; 95% CI: 1,27–5,97; p=0,010), sedangkan Kalimantan Timur menunjukkan risiko lebih rendah (OR=0,12; 95% CI: 0,01–0,97; p=0,048). Temuan ini menunjukkan bahwa disparitas kematian neonatal dini lebih terlihat pada tingkat provinsi, sehingga diperlukan pendekatan berbasis wilayah yang lebih spesifik dalam perencanaan intervensi.
Copyrights © 2026