Desa Ujong Beusa, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat, belum memiliki penanda visual yang jelas pada akses masuk desa. Kondisi tersebut membuat lokasi desa relatif sulit dikenali karena jalur masuk masih menyatu dengan akses menuju wilayah di sekitarnya. Program pengabdian melalui KKN Reguler Universitas Teuku Umar Kelompok 59 dilaksanakan untuk menghasilkan gapura sebagai penanda sekaligus identitas fisik Desa Ujong Beusa. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif yang dilaksanakan melalui observasi, koordinasi, persiapan alat dan bahan, pengukuran, pemotongan material, perakitan, pengecatan, pembuatan tulisan, finishing, hingga pemasangan. Bambu dipilih sebagai bahan utama karena tersedia di lingkungan desa sehingga dapat dimanfaatkan tanpa menambah pengeluaran tunai kelompok. Hasil kegiatan berupa satu pasang gapura yang berhasil dipasang pada akses masuk Desa Ujong Beusa. Pelaksanaan melibatkan mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam bentuk koordinasi, penyediaan bahan dan alat, serta pengerjaan di lapangan. Pengeluaran tunai yang tercatat mencapai Rp465.000, sedangkan sejumlah bahan diperoleh dari desa dan beberapa alat digunakan melalui peminjaman. Gapura yang dihasilkan memberikan penanda visual yang lebih mudah dikenali sekaligus memperkuat identitas fisik wilayah. Keberadaan fasilitas tersebut juga menjadi hasil kegiatan yang dapat dimanfaatkan setelah masa KKN berakhir, dengan pemeliharaan sebagai bagian penting untuk mempertahankan fungsinya
Copyrights © 2026